Diungkapkannya, kebijakan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dalam situasi seperti adalah hal yang lumrah dan tak perlu diperdebatkan.
"Ekonomi global belum pulih, kita bisa lihat bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia itu setiap kali selalu ada koreksi setiap bulannya, koreksinya selalu ke bawah, nggak ada koreksi ke atas," ucap Darmin di acara Outlook Ekonomi Indonesia 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (10/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmin melihat, negara-negara dengan ekonomi terbesar juga diperkirakan juga masih mengerem tingkat pertumbuhan ekonominya.
"Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tahun ini 2,2%, tapi kita lihat saja ujungnya. China sekarang 6,5% tahun ini, tahun depan 6,2%. Paling tinggi masih India 7,6%, tahun depan diperkirakan masih 7,6%. ASEAN masih 5%," ucapnya.
Kendati demikian, lanjutnya, dirinya melihat ada angin segar pendorong pertumbuhan ekonomi lainnya dengan kenaikan harga komoditas yang mulai kembali membaik.
"Negara-negara mitra utama kita ekonominya melambat. Tapi akhir-akhir ini ada berita baik, harga komoditas mulai merambat naik," kata Darmin.
(ang/ang)
