Pariwisata dan Infrastruktur Jadi Andalan Ekonomi ASEAN

Pariwisata dan Infrastruktur Jadi Andalan Ekonomi ASEAN

Fadhly F Rachman - detikFinance
Selasa, 15 Nov 2016 13:44 WIB
Pariwisata dan Infrastruktur Jadi Andalan Ekonomi ASEAN
Foto: Fadhly F Rachman
Jakarta - Kegiatan Asean Finance Minister Investors Seminar (AFMIS) ke-11 digelar di Jakarta hari ini. Pada acara tersebut, sejumlah Menteri dan Wakil Menteri Keuangan dari negara Asean hadir dalam acara yang membahas kerjasama ekonomi untuk meningkatkan daya saing ASEAN di kawasan global.

Wakil Menteri Keuangan RI Mardiasmo mengungkapkan, dalam acara ini, para peserta yang hadir membahas isu-isu ekonomi demi meningkatkan peran ASEAN dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi dunia. Selama ini, ASEAN sudah dikenal sebagai wilayah yang memiliki pertumbuhan ekonomi cukup tinggi.

Salah satu sektor yang dapat mengangkat pertumbuhan ekonomi ASEAN, menurut Mardiasmo, adalah sektor pariwisata. Mardiasmo mengatakan, di tengah tantangan global, pariwisata menjadi salah satu faktor pertumbuhan utama di antara negara ASEAN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB dan lapangan kerja dalam perekonomian negara anggota ASEAN. Pada tahun 2014. Wilayah ini menarik 105 juta wisatawan, dan jumlah itu diperkirakan mencapai 200 juta pada tahun 2020," ungkap Mardiasmo dalam acara tersebut, Selasa (15/11/2016).

Selain pariwisata, lanjut Mardiasmo, sektor lain seperti infrastruktur dan konektivitas sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

"Asian Development Bank memperkirakan bahwa ASEAN membutuhkan sekitar 100 miliar US Dolar untuk investasi infrastruktur setiap tahun sampai 2020. Indonesia sendiri membutuhkan sekitar 400 miliar Dollar AS untuk pembangunan infrastruktur hingga 2020, dan hanya sekitar 30 persen dari kebutuhan tersebut dapat dibiayai oleh dana publik," terangnya.

"Dengan gap tersebut dalam pembiayaan, sumber pendanaan tambahan sangat diperlukan. Terlibat dengan sektor swasta dan lembaga multilateral untuk mengidentifikasi peluang dan melengkapi belanja pemerintah akan sangat penting untuk tingkat yang lebih tinggi dari pembangunan infrastruktur," tuturnya. (dna/dna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads