Kendati demikian, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengungkapkan, jika pihaknya optimistis kondisi ekonomi RI khususnya nilai tukar rupiah akan membaik pada tahun 2017 nanti.
Untuk saat ini, Juda mengatakan, gejolak perekonomian tersebut tidak hanya berpengaruh bagi Indonesia, namun juga pada negara berkembang lainnya seperti India dan Brazil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juda mengatakan, para pelaku pasar saat ini sedang menunggu kebijakan serta program baru dari pemerintah AS yang baru.
"Februari (2017) akan ada kejelasan dari program, market akan hold dulu sehingga kita lihat di financial market bereaksi. Eksposure kita nggak terlalu besar, paling sedikit dipengaruhi yang ada di AS. Kalau di Malaysia dan Filipina yang dipengaruhi AS lebih besar dari kita," sambung dia.
Menurutnya kondisi perekonomian akan kembali normal setelah pemerintah AS mengeluarkan kebijakan terbarunya. Karena Indonesia, kata Juda, tidak terlalu berpengaruh terhadap gejolak ekonomi global, berbeda jika dibandingkan Malaysia maupun Filipina.
"Eksposure kita nggak terlalu besar, paling sedikit dipengaruhi yang ada di AS. Kalo di Malaysia dan Filipina yang dipengaruhi AS lebih besar dari kita. Maka kami optimistis 2017 lebih baik dari tahun ini," tuturnya. (dna/dna)











































