Menteri perindustrian Airlangga Hartarto menyebut, untuk mengembangkan kapasitas industri, dapat didorong menggunakan pengembangan R&D center atau pusat penelitian industri.
"Peringkat daya saing kita masih kalah saing dari Singapura yang mendapat peringkat nomor 2, Malaysia 25, dan Thailand 34. Selain itu, Indonesia berada di posisi 31 dari 91 negara dalam Global Innovation Index dan Technology Readiness index," kata Airlangga, di Hotel Shangri-la, Jakarta Selatan, Selasa (15/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bedasarkan data tersebut saatnya untuk meningkatkan daya saing melalui pengembangan kapasitas industri dan infrastruktur yang didorong oleh R&D center atau terobosan inovasi," kata Airlangga.
Menurut Airlangga, untuk meningkatkan indeks daya saing Indonesia harus memperkuat inovasi dalam sektor industri. Untuk itu, diperlukan peningkatan adanya pusat penelitian industri secara masif.
"Untuk rangka meningkatkan daya saing nasional dan dapat menangkap keuntungan industri global, hal pertama yang harus kita lakukan adalah penguatan inovasi dalam sektor industri strategis," kata Airlangga.
"Oleh karena itu kualitas dan intensitas R&D industri harus ditingkatkan secara besar-besaran juga dengan pertimbangan perilaku pasar," ujar Airlangga.
Seperti diketahui, dalam Laporan Indeks Daya Saing WEF 2016-2017 tiga posisi paling puncak ditempati oleh Swiss, Singapura, dan Amerika Serikat (AS). Indonesia juga masih kalah dari beberapa negara Asia lainnya, seperti Malaysia (25), Korea Selatan (26), China (28), Jepang (8), dan Thailand (34).
Sementara di bawah Indonesia masih ada Filipina (57), Brunei Darussalam (58), dan Vietnam (60). (dna/dna)











































