Adanya ancaman ketidakamanan situasi negara dikhawatirkan membuat para investor enggan untuk menaruh dananya berinvestasi di Indonesia. Hal ini merujuk pada aksi demonstrasi pada tanggal 4 November 2016 yang berujung kerusuhan.
"Setiap ada sesuatu yang menimbulkan potensi ribut, masyarakat harus dipikirkan lagi. Ini sebetulnya proses dinamika politik. Masyarakat saya rasa sudah paham soal politik. Tapi manakala sudah tidak terkendali, dengan jumlah yang begitu besar, akan sulit bagi aparat keamanan untuk tidak kecolongan. Apalagi sudah ada emosi dulu pada peserta demonya," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Hariyadi Sukamdani dalam diskusi media di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (16/11/2016).
Pengusaha nasional tersebut menambahkan, selama ini investor melihat kestabilan politik di tingkat nasional sebagai indikator dalam menanamkan modal. "Kalau ini terjadi sesuatu di luar dugaan, harganya sangat mahal. Kemunduran ekonomi, mundurnya minat investor asing. Padahal masalahnya sederhana saja," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berharap, semua pihak cooling down. Saya nggak belain kiri kanan, tapi kalau tidak ada kedewasan dari orang yang bermasalah sekarang, nanti akan repot. Kita yang setengah mati menjaga ekonominya. Kalau dipikir, ngapain kita dorong tax amnesty dan segala macam, kalau akhirnya diacak-acak seperti ini," tutur dia.
Untuk itu, masyarakat diharapkan dapat berlaku bijak dalam menyikapi situasi yang terjadi. Pasalnya, aksi demonstrasi yang berujung rusuh, mau tidak mau akan berdampak pada iklim usaha. Belum lagi aksi demo 4 November yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia
"Artinya sayang tax amnesty kemarin. Apalagi kita sudah lihat hasil pendepat seluruh tokoh dunia, terkait pilpres AS kemarin, suasananya makin penuh ketidakpastian karena global juga berpengaruh kepada kita. Jadi mestinya kita berpikir matang dan dewasa ya," tukasnya. (mkl/mkl)











































