Sambil menunggu izin itu, menurut Antarjo, para eksportir dapat mencari pasar baru dengan membidik negara lain sebagai sasaran ekspor. Ia menyarankan agar eksportir tidak bergantung kepada China tetapi mencari pasar baru.
Tercatat di Balai Karantina jumlah ekspor manggis sebanyak 25.000/ ton setahun mayoritas bertujuan Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Selain itu, ada pula urutan kedua dikirim ke Dubai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya beberapa negara yang dapat menjadi sasaran ekspor misalnya Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Uni Emirat Arab. Namun, dia menyayangkan mengapa ekspor ke Eropa dan lainnya masih sedikit padahal telah dibuka keran ekspor ke negara tersebut.
Dia mencontohkan, potensi ekspor ke Eropa yang sangat bagus. Misalnya, di Eropa harga 1 buah manggis bisa mencapai 15 euro, jika 1 kilogram berisi 8 hingga 10 buah maka bisa dijual 150 euro/kg atau sekitar Rp 2,2 juta.
"Masa tergantung China sih, bisa ke pasar lain seperti Dubai, waktu haji mereka. Ekspor ke Eropa walau dikit harganya lebih bagus. Satu buah manggis itu harganya 15 euro, tergantung ukuran kadang 8 atau 10 jika sekilo. Kalau 1 kg itu 10 biji harganya 150 euro/kg hampir Rp 2,2 juta/kg coba dibayangin apa nggak istimewa kalau misal ekspor 1 ton gimana. Kalau di Indonesia 1 euro bisa 2 kilo," ujar Antarjo.
Ia menyebut balai karantina siap memfasilitasi pengiriman ekspor tersebut. Nanti ekspor dapat masuk melalui Belanda terlebih dahulu.
"Karantina bisa kok siap memfasilitasi, kita bicarakan dengan Indonesia dan Belanda siap menerima produk ke Eropa, tapi kenapa ya jumlahnya dikit yang di ekspor ke Eropa, Yang makan manggis di Eropa banyak, kulitnya kan berguna juga untuk obat," kata Antarjo.
Sedangkan harga pasaran manggis di China per kilogram dihargai Rp 70.000 hingga Rp 140.00. Dengan begitu, menurut Antarjo masih banyak peluang dan pasar yang harusnya dapat dimanfaatkan para eksportir. (hns/hns)











































