Kejadian tersebut berlangsung saat Amran mengunjungi peternak ayam tradisional di daerah Tonjong, Bogor, pada hari Rabu (23/11/2016). Ketika datang ke salah satu peternakan ayam, Amran langsung melihat-lihat ayam yang ada di dalam kandang.
Di situ ia mendengarkan keluhan para peternak yang mengatakan harga bibit ayam terlalu tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendengar keluhan tersebut, Amran sempat bingung karena seharusnya masalah ini sudah selesai. Lalu ia meminjam telepon genggam salah satu peternak untuk menghubungi perusahaan penyedia bibit ayam dan langsung menanyakan harga bibit ayam.
Saat dia menanyakan harga bibit ayam, ada perusahaan yang mengatakan harganya Rp 5.300 per ekor. Mendengar tingginya harga DOC tersebut, Amran langsung menegur perusahaan itu.
"Tolong harga DOC-nya Rp 4.800 per ekor, kalau kamu rugi tutup saja perusahaannya. Nanti saya carikan bisnis lain, saya nggak mau kan kamu juga rugi," tegas Amran saat menghubungi perusahaan penyedia bibit ayam melalui telepon genggam.
"Selesai,kan? Saya nggak mau harga DOC mencekik bapak-bapak sekalian," ungkap Amran kepada para peternak setelah menegur perusahaan tersebut.
Untuk solusi jangka panjang, Amran mengundang para peternak ayam tradisional dan perusahaan penyedia bibit ayam ke Kementerian Pertanian untuk membahas regulasi mengenai hal tersebut pada Senin depan.
"Regulasi adil pada semua pihak, pada pengusaha aku sayang. Tapi aku lebih sayang pada kalian semua," ungkapnya kepada para peternak. (hns/hns)











































