Dirut BNI: Ekonomi RI Terbaik Ketiga di G20, Tapi Masih Kalah dari Filipina

Dirut BNI: Ekonomi RI Terbaik Ketiga di G20, Tapi Masih Kalah dari Filipina

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 24 Nov 2016 11:01 WIB
Dirut BNI: Ekonomi RI Terbaik Ketiga di G20, Tapi Masih Kalah dari Filipina
Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini terbilang cukup baik di tengah masih melambatnya ekonomi global. Di kuartal III-2016, GDP (Gross Domestic Product) Indonesia mencatatkan pertumbuhan 5,02%.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Achmad Baiquni mengungkapkan, angka pertumbuhan tersebut bahkan menempati peringkat terbaik ketiga di antara negara-negara G20.

"Melalui berbagi kebijakan ekonomi 14 paket, pemerintah sudah memperkuat pondasi nasional. Pertumbuhan bisa tumbuh 5,02% di kuartal III, kondisi ini relatif membaik dibandingkan 2015 di 4,79%. Ini patut diapresiasi, di antara G20, Indonesia tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan terbesar ketiga, sedikit di bawah China dan India," katanya di 100 CEO Forum, JCC, Jakarta, Kamis (24/11/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun demikian, lanjut Baiquni, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di bawah Filipina, negara yang selama ini dianggap jadi pembanding paling dekat dengan Indonesia dari sisi geografis dan struktur ekonomi. Filipina di kuartal III-2016 memiliki pertumbuhan GDP sebesar 7,1%.

"Indonesia menunjukkan tren membaik. China dan India setengah melambat, bukan berarti bisa membusungkan dada. Pasalnya dibandingkan negara-negara ASEAN, Filipina, pertumbuhan ekonomi kita relatif tertinggal. Padahal kedua negara punya struktur ekonomi, kedekatan geografis, dan kemiripan budaya dengan Indonesia," jelas Baiquni.

Menurutnya, jika ditarik benang merah, maka masih kalahnya Indonesia dibandingkan Filipina yakni masih seretnya investasi yang masuk lantaran iklimnya belum sebaik negara tetangga tersebut.

"Hal itu menunjukkan bahwa masih ada kendala, sehingga belum memanfaatkan seluruh potensi dengan maksimal, salah satu permasalahan yang kerap disoroti adalah iklim investasi," ujar Baiquni. (drk/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads