Cerita BPJS Ketenagakerjaan Layani Lebih dari 100.000 Peserta Tarik JHT

Cerita BPJS Ketenagakerjaan Layani Lebih dari 100.000 Peserta Tarik JHT

Muhammad Idris - detikFinance
Jumat, 25 Nov 2016 17:15 WIB
Cerita BPJS Ketenagakerjaan Layani Lebih dari 100.000 Peserta Tarik JHT
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, mencatat masih banyak pekerja yang berhenti dari pekerjaannya dan menarik Jaminan Hari Tua (JHT).

Kepala Divisi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan, Abdul Latif, mengatakan masih besarnya pekerja yang berhenti bisa dilihat dari jumlah klaim JHT yang masih saja tinggi sejak Agustus tahun lalu.

"Rata-rata penarikan normal setiap bulan itu di bawah 100.000 peserta. Sekarang sejak Agustus 2015 di atas 100.000 peserta, jadi kita kewalahan sekali. Apalagi di September tahun lalu sampai 300.000 peserta," kata Latif di Penang Bistro, Kuningan, Jakarta, Jumat (25/11/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BPJS Ketenagakerjaan mencatat, kenaikan mulai terjadi sejak mencuat berita perubahan skema pengambilan JHT menjadi minimal masa kepesertaan 10 tahun dari sebelumnya 5 tahun, itu pun dibatasi hanya 10% saja dari total dana JHT.

Kenaikan berturut-turut pada Januari 2016 sebanyak 206.952 orang, Februari 208.762, Maret 221.865 orang, April 206.130 orang, Mei 182.284 orang, Juni 201.570 orang, Juli 117.081 orang, Agustus 177.983 orang, September 169.023 orang, dan Oktober 166.327 orang.

"Sekarang masih di atas 100.000 orang, kita sangat kewalahan. Bahkan September 2015 jumlah pencairan JHT mencapai 315.708 orang. September 300.000 orang, padahal sebelum Juli 2015 di bawah 100.000 peserta," ujar Latif.

Jika di rata-rata, periode Januari sampai Agustus 2015 rata-rata klaim setiap bulannya hanya 86.369 peserta, sementara pada periode September 2015 sampai Oktober 2016 rata-rata klaim per bulannya membengkak menjadi 204.015 peserta.

Sementara jika berdasarkan jumlah klaim setiap bulan pada periode Januari-Agustus 2015 sebesar Rp 1,04 triliun, membengkak menjadi Rp 1,55 triliun pada periode September 2015 sampai Oktober 2016. (hns/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads