Menteri Keuangan, Sri Mulyani menjelaskan, dengan mengandalkan sektor domestik, gejolak yang terjadi pada sektor global diharapkan tak akan banyak mempengaruhi kondisi perekonomian RI. Untuk, itu pemerintah memaksimalkan segala potensi yang ada, yakni dengan peran masyarakat dalam hal peningkatan investasi hingga penerimaan pajak.
"Tapi tantangannya perbankan kita hanya 6,5% kredit growth padahal dulu capai 10%. Ini adalah saling kait-mengkait karena kalau ekonomi stabil maka ada peningkatan komitmen investasi," kata Sri Mulyani di Hotel Aston, Bogor, Sabtu (26/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sekarang jumlah tax to GDP ratio 13% secara total. Kalau tambahkan defisit ada total hingga 15 -16%. Kalau negara lain seperti India bisa capai 7% defisit. Kalau kita hanya mampu melakukan daya dorong APBN sebesar 16%," jelasnya.
Dari sisi pemerintah, Sri Mulyani juga memiliki strategi dalam mengejar pertumbuhan ekonomi 2017, yakni dengan memanfaatkan APBN sesuai skala prioritas pembangunan.
"Belanja juga perlu baik. Sedapat mungkin APBN tidak dikapling-kapling. Jadi semakin banyak yang dibentuk mandatory spending itu misalnya untuk kesehatan utang, gaji, sehingga fiskal space sangat kecil. Ini jangan lagi kita lakukan kapling-kapling," kata dia.
Rancangan APBN 2017 pun dinilai lebih ambisius oleh Sri Mulyani.
"Kalau ekonomi tertekan dari kita harus mampu untuk andalkan sektor domestik. Tahun 2017 kita ambisius tapi berhati-hati," lanjut dia.
Sepanjang tahun 2016 ini, terang Sri Mulyani, aktivitas belanja barang dan modal lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Namun, pembayaran bunga utang masih tetap rendah. Hal ini lah yang menjadi salah satu patokan pemerintah untuk dapat menerapkan penerimaan negara yang ambisius pada tahun 2017.
Dari catatannya, Sri Mulyani menuturkan, angka belanja pemerintah telah mencapai Rp 857,5 triliun atau setara 65,6% dari target yang ditentukan. Capaian ini terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp 259,3 triliun, belanja barang Rp 177,6 triliun, belanja modal Rp 98 triliun, bunga utang Rp 157 triliun, subsidi Rp123,2 triliun, bantuan sosial Rp37,7 triliun, belanja hibah Rp 800 miliar, dan belanja lain-lain sebesar Rp 4 triliun.
"Tapi kalau lihat defisit saat ini berdasarkan belanja 2,14%, tapi kita perkirakan capai 2,7% akhir tahun," kata dia.
Meskipun telah dirancang dengan ambisius, Sri Mulyani mengimbau, supaya Indonesia tetap harus cermat dan berhati-hati. Sebab, kata dia, ancaman masih terdapat pada penurunan harga minyak dunia yang akan berdampak pada penerimaan negara.
"Walaupun harga minyak meningkat tapi dengan uncertainty, tidak akan meningkat besar di tahun 2017, mudah-mudahan bisa bertahan di level US$ 45 per barel," tutupnya. (dna/dna)











































