ADB: Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 5,5%

ADB: Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 5,5%

- detikFinance
Rabu, 06 Apr 2005 14:22 WIB
Jakarta - ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,5 persen pada tahun 2005 ini. Pertumbuhan ekonomi ini di dorong oleh makin besarnya konsumsi domestik dan investasi yang makin meningkat.Demikian disampaikan oleh Ekonom Bank Pembangunan Asia (ADB) Amanah Abdulkadir dalam jumpa pers mengenai laporan tahunan ADB di kantor ADB, Gedung BRI Tower II, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (6/4/2005)."Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mencapai 5,5 persen pada tahun 2005 walaupun ada bencana tsunami dan pada dua tahun berikutnya pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6-6,5 persen," kata Amanah.Bencana tsunami dan gempa pada Desember tahun lalu mengakibatkan kerusakan yang sangat besar di Aceh dan juga mengakibatkan banyak korban jiwa. Bencana ini menghancurkan komunitas masyarakat namun tidak menghancurkan sentra-sentra utama ekonomi Indonesia.Ke depan, pemerintah Indonesia akan menghadapi beberapa tantangan dalam investasi dan penyediaan tenaga kerja untuk sekitar 2 juta orang per tahunnya."UU Investasi seharusnya ada perubahan sehingga bisa memangkas birokrasi dan mempercepat proses investasi," ujarnya.Sementara itu angka pengangguran meningkat dari 9,1 persen pada tahun 2003 menjadi 9,6 persen pada tahun 2004. Oleh karenanya pemerintah harus menciptakan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan, memperbaiki iklim investasi, menurunkan biaya transaksi dan memperbaiki infrastruktur sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terus meningkat.Pada tahun 2004, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,1 persen karena adanya peningkatan konsumsi swasta dan kenaikan modal tetap. Untuk sektor pertanian mengalami peningkatan 4 persen, konstruksi meningkat 8,2 persen, tranportasi dan komunikasi mengalami pertumbuhan 12,7 persen dan di sektor manufaktur juga mengalami kenaikan 6,2 persen.Dalam laporan ADB, pemerintah juga dihadapkan terbatasnya produksi minyak. Indonesia hanya memproduksi 1 juta barel minyak per hari dimana 20 persen lebih rendah dari kuota OPEC. Penurunan produksi disebabkan oleh minimnya investasi di bidang pertambangan dan produksi minyak dan juga lemahnya keamanan di beberapa area pertambangan. (san/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads