ADB: Asumsi Harga Minyak yang Ideal US$ 41 per Barel
Rabu, 06 Apr 2005 15:00 WIB
Jakarta - Pemerintah Indonesia kelihatannya mesti melakukan revisi asumsi harga minyak dalam APBN-P. Pasalnya sejumlah pihak termasuk Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan asumsi harga minyak yang ideal adalah US$ 41 per barel.Demikian disampaikan Ekonom Bank Pembangunan Asia (ADB) Amanah Abdulkadir dalam jumpa pers mengenai laporan tahunan ADB di kantor ADB, Gedung BRI Tower II, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (6/4/2005).Asumsi harga minyak yang di pasang pemerintah dalam APBN-P 2005 adalah US$ 35 per barel. Sementara untuk kurs rupiah ADB melihat sampai akhir tahun 2005 rupiah akan bertengger di Rp 9.000 per US$ 1 atau lebih tinggi dari asumsi pemerintah yang ditetapkan Rp 8.900 per US$ 1."Patokan yang digunakan ADB adalah Brent Crude Oil yakni US$ 41 per barel. Kalau nilai tukar rupiah kita perkirakan paling optimistis Rp 9.000 per US$ 1, di bawah itu rasanya tidak mungkin. Tapi itu bagus untuk perekonomian," kata Amanah.Mengenai suku bunga SBI, ADB memperkirakan akan berada di level 9,25 persen. "SBI minimal sama abstraktifnya dengan investasi dolar yaitu 8,75 persen tetapi tidak mungkin depresiasi 0 persen. Misalnya ada depresiasi 0,5 persen maka SBI akan menjadi 9,25 persen," tuturnya.Menyangkut asumsi makro lainnya, pertumbuhan ekspor pada tahun 2005 akan mencapai 6 persen, pertumbuhan impor akan mencapai 9,6 persen. Pertumbuhan ekspor dan impor akan mengalami kenaikan lebih tinggi pada dua tahun mendatang dengan kisaran tambahan 1-2 persen.Perekonomian AsiaADB juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia akan mengalami pertumbuhan yang meningkat di tahun 2005 dan dua tahun berikutnya. Pertumbuhan ekonomi Asia terus meningkat walaupun ada kenaikan harga minyak yang tinggi dan bencana tsunami.Pertumbuhan ekonomi di negara-negara di Asia pada tahun 2005 akan mencapai 6,5 persen. Negara-negara di Asia Timur diperkirakan akan mencapai pertumbuhan 6,7 persen. Asia Tenggara akan mencapai pertumbuhan 5,4 persen. Asia Selatan akan mencapai pertumbuhan ekonomi 6,7 persen. Asia Tengah akan mencapai pertumbuhan 8,7 persen. Sedangkan untuk negara-negara di kawasan Asia pasific akan mengalami pertumbuhan 2,3 persen.Pertumbuhan ini banyak didorong oleh faktor konsumsi dan investasi di kawasan Asia yang terus meningkat. Selain itu juga ada kenaikan ekspor dan impor dari negara-negara Asia.
(san/)











































