Sri Mulyani mengatakan, untuk mengambil alih aset tersebut, pemerintah juga melibatkan TNI.
"Waktu itu masih banyak preman. Untuk membersihkan dan mendapatkan gedung supaya bisa dibangun, membersihkan dari preman-preman, kita minta sama Panglima Kodam untuk membersihkan. Sehingga aset bisa diambil alih dan kemudian dibangun gedungnya," ujar Sri Mulyani dalam Seminar Nasional Tantangan APBN dari Masa ke Masa, di Kementerian Keuangan, Jakarta Rabu (30/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gedung yang didiami oleh presiden, yaitu istana, itu nggak ada sertifikatnya. Jadi bisa saja tiba-tiba cucunya Daendels datang mengklaim, bahaya itu (tertawa). Jadi itu betul-betul, it's so real," kata Sri Mulyani.
Kini, setelah penataan aset negara berjalan, semua pihak akhirnya sadar bahwa hal itu sangat penting.
"Orang ternyata mengatakan bahwa aset itu ya harusnya ditertibkan, dibukukan, secara legal, secara penatausahaan dan penggunaannya semuanya tercatat. Ini menurut saya sesuatu yang luar biasa mengenai republik ini," kata Sri Mulyani. (hns/dna)











































