Demikian yang disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam paparannya di acara Indonesian Economy and ICT Outlook 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (1/12/2016).
Dari sisi permintaan ekspor dan impor, Indonesia mengalami pertumbuhan negatif selama dua tahun terakhir. Sedangkan dari sisi investasi, rendahnya harga komoditas membuat perusahaan-perusahaan yang terkena dampak, menahan investasinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri Mulyani mengatakan, hal ini kemudian menyebabkan tekanan kepada APBN yang akan mendorong terjadinya pertumbuhan konsumsi tadi.
"Konsumsi relatif bisa meningkat secara sehat karena inflasi relatif terjaga, meski terkena turbulensi sedikit dari kemungkinan kenaikan suku bunga AS yang akan pasti terjadi tahun depan," ungkap Sri Mulyani.
Oleh karena itu, untuk mencapai target 5,1%, Indonesia harus memastikan sektor konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah bisa berperan besar untuk mendorong kinerja perekonomian.
"Kita harus make sure, bahwa seluruh engine of growth dari sisi demand lebih merata," tutur Sri Mulyani.
"Ini penting, karena defisit kita pada level 2,5-2,7% sudah maksimal space-nya untuk ekspansi. Dan kalau kita tidak ingin growth menurun, kesempatan kerja meningkat, dan kemiskinan menurun, maka we have to make sure, bahwa private sector role juga menjadi penting," kata Sri Mulyani. (hns/hns)










































