Penurunan Harga Ikan Sumbang Deflasi di Indonesia Timur

Penurunan Harga Ikan Sumbang Deflasi di Indonesia Timur

Yulida Medistiara - detikFinance
Kamis, 01 Des 2016 17:01 WIB
Penurunan Harga Ikan Sumbang Deflasi di Indonesia Timur
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi inflasi 0,47% di November 2016. Meski demikian, tidak semua kota mengalami inflasi. Inflasi terjadi di 78 kota, sedangkan 4 kota mengalami deflasi terutama di Indonesia Timur.

Sejumlah kota di Indonesia Timur yang mengalami deflasi adalah Bau-bau, Sulteng, Maluku, dan Jaya Pura, Papua dan Kendari. Deflasi tertinggi terjadi di Bau-bau 1,54% dengan Indeks Harga Konsumsi (IHK) 128,12 dan terendah terjadi di Kendari 0,22% dengan IHK 121,52.

"Kenapa terjadi deflasi? Mereka penggemar ikan, sedangkan harga ikan lagi murah-murah, konsumsi ikannya tinggi," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo, dalam jumpa pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Kamis (1/12/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sasmito menyebut pada November ini terjadi penurunan nilai tukar petani sebesar 0,20% untuk kelompok budidaya ikan. Hal itu karena harga ikan sedang murah, tetapi ini membuat keuntungan bagi pedagang pecel lele karena harga yang diterima dari petani lebih murah daripada biasanya.

"Untuk membudidaya ikan mengalami penurunan -0,02% disebabkan terutama karena ikan nila dan lele sedang murah, tapi kalau beli pecel lele itu nggak turun tapi dari petani bisa turun, pedagang lele bisa nikamati untung banyak pada bulan-bulan ini karena ikan lele dan nila lagi turun ini banyak lagi musim panen. Karena ikan nila sekarang bukan hanya di panen kalau sudah besar, masih baby nila juga sudah di panen hampir seperti baby ikan nila juga karena sudah banyak," ujarnya.

Trump Jadi Presiden AS Tak Pengaruhi Inflasi RI

Sebelumnya terpilihnya Donald Trump pada Pilpres AS pada November lalu membuat sejumlah nilai mata uang di dunia berguguran, tak terkecuali rupiah. Namun, hal tersebut tidak mempengaruhi faktor inflasi di Indonesia.

Sasmito Hadi Wibowo mengatakan terpilihnya Trump tidak mempengaruhi faktor inflasi. Meskipun saat kampanye Trump cenderung mementingkan kepentingan nasional AS.

"Valas kita tahu pelemahan rupiah bukan hanya rupiah tapi itu banyak di mata uang lain karena ada faktor terpilihnya Donlald Trump bagi presiden AS itu yang sangat nasionalis itu mementingkan kepentingan nasional AS," kata Sasmito.

Trump yang dalam kampanyenya banyak menyebut akan lebih memprotektif terhadap produk luar negeri disebut-sebut akan menguatkan ekonomi AS sehingga nilai tukar dolar menguat terhadap mata uang lain. Dengan menguatnya dolar kepada rupiah, semestinya barang impor lebih mahal tetapi menurut Sasmito hal itu tidak terjadi dengan terpilihnya Trump.

Menurutnya, produk impor harga saat ini cenderung turun. Hal itu karena Trump bukan lah faktor supply dan demand perdagangan global.

"Mata uang yang melemah biasanya akan mendorong terjadinya harga barang kita jadi lebih murah dan harga barang luar negeri itu lebih mahal tapi ternyata karena faktornya Trump ini nggak terjadi karena kita seharusnya harga barang di luar negeri harusnya lebih mahal, kalau indikatornya kita lihat indikatornya harga emas perhiasannya turun Insya Allah harga barang impor turun sehingga pelemahan rupiah ini tidak mempengaruhi inflasi karena Trump bukan faktor supply demand di pasar global dunia," ujar Sasmito. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads