Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 06 Des 2016 16:03 WIB

Bea Cukai: Penyelundup Rotan RI ke Singapura Tak Takut Tembakan Peringatan

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Direktorat Jenderal Bea Cukai hari ini melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Dalam rapat tersebut, Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai, Heru Pambudi, memaparkan bagaimana sulitnya petugas Bea Cukai melakukan tindakan penyelundupan di lapangan.

Tindakan penyelundupan sendiri kata dia terus bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun. Di tahun 2013, jumlah penindakan yang dilakukan Ditjen Bea Cukai ada 6.000 lebih dan terus meningkat hingga tahun 2016.

Heru memaparkan, bagaimana petugas Ditjen Bea Cukai melakukan kegiatan pengawasan laut dan mendapatkan perlawanan dari mafia-mafia penyelundup. Salah satu peristiwa, di mana Ditjen Bea Cukai melakukan penindakan atas ekspor rotan ilegal.

Diceritakan, bagaiman kapal penyelundup rotan mencoba menghalang-halangi petugas Ditjen Bea Cukai melakukan pemeriksaan di perairan sekitar Batam. Rotan tersebut biasanya dibawa dari Kalimantan dan Sulawesi.

Meski sudah diperingati lewat tembakan peringatan, para penyelundup masih berani melakukan perlawanan. Kapal tersebut kemudian ditabrak oleh kapal milik petugas Ditjen Bea Cukai, agar tidak bergerak lebih jauh.

"Ini harus sampai kita tabrak, karena apabila tidak ditabrak, sebentar lagi mereka akan memasuki ke perairan Singapura," kata Heru di ruang rapat komisi XI DPR RI, Jakarta, Selasa (6/12/2016).

Selain itu dijelaskan juga bagaimana perlawanan penyelundup yang menggunakan massa yang banyak, dengan menggunakan obor dan bom molotop. Petugas patroli bea cukai dilempar petasan dan bom molotov, dan menceburkan gula selundupannya ke dalam laut untuk menghindari razia gula.

Heru berujar, saat ini semakin banyak yang melakukan perlawanan terhadap pencegahan kegiatan penyelundupan. Hal tersebut katanya disebabkan oleh adanya gap suplai dan disparitas harga bahan pokok di daerah-daerah remote alias terpencil.

"Dua hal itu jadi concern kita bersama. Selama suplai daerah remote area masih jauh dari cukup, maka akan terus terjadi penyelundupan," tandasnya. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com