Dalam survei yang dilakukan oleh Price Waterhouse Cooper (PwC) Indonesia, dalam 1 tahun terakhir, pertumbuhan bisnis keluarga di Indonesia menurun dibandingkan tahun 2014. Namun, masih ada optimisme dalam bisnis keluarga di Indonesia. Sebanyak 88% dari bisnis keluarga di dalam negeri menargetkan pertumbuhan, dan 44% memperkirakan bakal tumbuh pesat.
Entrepreneurial and Private Clients Leader PwC Indonesia, Michael Goenawan, menjelaskan untuk dapat tumbuh pesat, bisnis keluarga harus memiliki strategi, salah satunya dengan menanggapi metode pembiayaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan, berdasarkan survei, bisnis keluarga di Indonesia yang optimistis tentang prospek di tahun-tahun mendatang dengan rencana mereka, yaitu berfokus kepada bisnis utama di pasar yang sudah ada dengan melakukan ekspansi ke area bisnis yang baru.
"Mayoritas dari mereka berpendapat, kekuatan bisnis keluarga berada dalam kemampuan kewirausahaan, organisasi yang lebih efektif dan streamlined, serta pengambilan keputusan yang dapat lebih cepat dilakukan. Bisnis keluarga di Indonesia juga mengakui pentingnya peranan digitalisasi dan manfaatnya terhadap bisnis mereka," kata dia.
"Generasi selanjutnya (dari bisnis keluarga) juga memainkan peran yang semakin penting, baik dalam merespons gangguan digital dan dalam proses penentuan strategi Mereka perlu diberdayakan dan didukung dalam menjalankan peran tersebut," tuturnya.
Namun, ada sejumlah tantangan yang harus dilewati para pelaku bisnis keluarga untuk dapat meraih pertumbuhan tersebut.
Director Entrepreneurial and Private Leader PwC Indonesia, Eric Darmawan mengatakan, ada sekitar lima isu yang harus diperhatikan dalam satu tahun ke depan bagi bisnis keluarga.
"Antara lain, kondisi ekonomi, persaingan, rekrutmen staf, pelatihan, dan keuangan atau ketersediaan dana," ungkap Eric.
Sedangkan, untuk tantangan dalam lima tahun ke depan, tidak jauh berbeda dari survei yang sebelumnya dilakukan PwC. Hanya saja, tantangan barunya mencakup tentang inovasi, serta upaya mengikuti perkembangan digital dan teknologi baru serta ketidakstabilan pasar di negara tempat mereka beroperasi
"Tantangan utama bisnis keluarga di Indonesia selama lima tahun ke depan adalah kemampuan berinovasi, merekrut serta mempertahankan staf yang berkompeten serta mengatasi ketidakstabilan pasar," tuturnya. (wdl/wdl)











































