Kementerian Pertanian dalam hal ini turut ikut andil dalam deradikalisasi misalnya dengan meningkatkan kesejahteraan warga lewat bertani. Saat berkunjung ke wilayah Tamanjeka, Poso, Sulawesi Selatan, Menteri Pertanian melihat kegiatan ibu-ibu keluarga eks DPO (daftar pencarian orang) kelompok radikal yang dibina oleh TNI dengan kelas khusus menjahit.
Ibu-ibu tersebut membuat tas dan pola baju kemeja. Amran sempat memborong semua produk tas tersebut dan membagi-bagikannya ke ibu-ibu yang hadir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang terpenting ada saudara-saudara kita yang eks teroris, ini yang menjadi penting ini pendekatannya harus kesejahteraan sehingga dengan Panglima, Pak Kasad, itu pak Gubernur, Bupati ajak mereka, kami siapkan alsintan untuk bertani," kata Amran, di lokasi, Sulawesi Tenggara, Selasa (13/12/2016).
"Ajak mereka kalau kereja sejahtera insya Allah nggak macam-macam. Itu pendekatannya sejahtera. Kalau orang sejahtera biasanya pikirannya positif, ini kita ubah. Nanti ada bantuan bibit cengkeh, merica, pala," imbuhnya.
Sementara itu, Pangdam VII Wirabuana Poso Mayor Jenderal TNI Agus SB yang juga turut hadir mengatakan awalnya TNI berperan dalam operasi Tinombala untuk memberantas kelompok Santoso. Lalu, TNI melakukan pendekatan secara harmonis dan persuasif kepada masyarakat dengan alat-alat pertanian.
"Kodam, Korim melajukan operasi teritorial melakukan pendekatan secara harmonis, dapat cetak sawah, bibit, pupuk, alsintan," imbuhnya.
Ia memaparkan, sebelumnya saat kelompok Santoso masih kuat, banyak warga khawatir ingin pergi ke kebun untuk menggarap sawah. Namun, saat ini dengan edukasi TNI dan lainnya warga telah banyak yang pergi berkebun .
"Pertanian jadi ada banyak lahan sawah yang tidur. Orang ke sawah takut, ke kebun takut akhirnya kita mengimbangi operasi yang di gunung dan di kebun dan rumah-rumah diberi lahan sawah. Ada juga tiap malam berkumpul membahas tentang kebangsaan, keagamaan dan lain-lain," imbuhnya. (dna/dna)











































