IMF: Bisa Jadi Harga Minyak Capai US$ 100 per Barel
Jumat, 08 Apr 2005 11:03 WIB
Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memberikan peringatan bahwa tidak menutup kemungkinan harga minyak dunia bisa menyentuh level US$ 100 per barel menyusul semakin tingginya konsumsi di sejumlah negara yang tengah melaju perekonomiannya seperti Cina dan India.Dalam laporan Worl Economic Outlokk, IMF memperkirakan pada tahun 2030 nanti harga minyak mentah dunia akan berada di range US$ 39-56 per barel, demikian dikutip dari AFP, Jumat (8/4/2005). Bahkan jika dinilai secara nominal tanpa melakukan berbagai upaya pengendalian inflasi maka harga minyak bisa berada di kisaran US$ 67-96 per barel akibat melonjaknya konsumsi untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan di negara seperti Cina dan India.Beberapa waktu lalu harga minyak dunia sudah menyentuh level US$ 58 per barel atau mengalami kenaikan sekitar 40 persen. Direktur Pelaksana IMF Rodrigo Rato memberikan peringatan bahwa tingginya harga minyak bisa memangkas pertumbuhan dunia sekitar 0,25-0,5 persen tahun ini.Disebutkan faktor penyebab tingginya harga minyak dunia diantaranya adalah terbatasnya cadangan minyak AS ditengah tingginya kebutuhan. Besarnya kebutuhan minyak juga dialami pada "kekuatan ekonomi baru" seperti Cina dan India."Jika masih ada gangguan dalam hal suplai, maka bukan hal yang aneh jika harga minyak bisa mencapai US$ 100 per barel," kata Ekonom Senior IMF Raghuram Rajan menanggapi hasil studi dari Goldman Sachs yang menyebutkan harga minyak bisa mencapai US$ 105 per barel.IMF memprediksi konsumsi minyak dunia akan terus meningkat dari 82 juta barel per hari pada tahun 2004 menjadi 140 juta barel per hari pada tahun 2030 nanti.Cina akan menjadi salah satu negara yang memberikan kontribusi kenaikan konsumsi yang besar pada tahun 2004 dan 2030 nanti menyusul tingginya pertumbuhan ekonomi dan besarnya jumlah penduduk. Dicontohkannya untuk kasus Cina jumlah kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak akan terus naik dari 21 juta kendaraan pada tahun 2002 menjadi sekitar 390 juta kendaraan pada tahun 2030.Oleh karenanya IMF dalam kajiannya menyebutkan dengan langkah efisiensi dan penggunaan sumber energi alternatif akan dapat mengurangi tekanan harga minyak pada perekonomian dunia."Ingat, harga minyak dunia pernah mencapai US$ 80-100 per barel pada tahun 1979," kata Rajan sambil menyebutkan kejadian itu muncul pada saat terjadinya krisis minyak akibat revolusi Iran.
(san/)











































