Demikian disampaikan Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (15/12/2016).
"Ekspor ini dorong oleh sektor estraktif. CPO, batu bara dan permata serta tembaga, karena faktornya adalan kenaikan harga," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian batu bara, tembaga dan permata mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan sejak awal tahun.
"Tapi batu bara dan CPO itu menjadi dua komoditas yang berpengaruh terhadap ekspor," ujar Sasmito.
Total ekspor 2016 (Januari - November) mencapai US$ 130,65 atau turun 5,63% (yoy). Non migas turun 1,96% menjadi US$ 118,80 miliar.
Porsi terbesar adalah Lemak dan Minyak Hewan Nabati US$ 16,05 miliar dan Bahan Bakar Mineral (BBM) US$ 13,06 miliar.
Pangsa pasar ekspor:
Amerika Serikat (AS) US$ 14,22 miliar
China US$ 13,23 miliar
Jepang US$ 11,97 miliar
ASEAN US$ 28,02 miliar
Uni Eropa US$ 12,98 miliar
"Ekspor sepertinya akan back to normal. Sepertinya yang dikatakan jurang terdalam adalah di Januari 2016. Walaupun Juli 2016 terendah, tapi jurangnya di Januari," tandasnya. (mkl/ang)











































