Masih Banyak Impor, Kementan: Kedelai Lokal Lebih Sehat

Masih Banyak Impor, Kementan: Kedelai Lokal Lebih Sehat

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 15 Des 2016 16:05 WIB
Masih Banyak Impor, Kementan: Kedelai Lokal Lebih Sehat
Ilustrasi (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta - Masyarakatnya yang terkenal gemar makan tempe dan tahu, membuat konsumsi kedelai di Indonesia jadi negara terbesar di dunia setelah China. Namun ironisnya, sebagian besar kebutuhan kedelai tersebut dipasok dari impor.

Direkur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Dwi Iswari, mengungkapkan sebenarya lebih bergizi karena genetikanya masih asli, berbeda dengan kedelai impor asal Amerika Serikat (AS) yang kedelainya sudah melalui rekayasa genetik.

"Kedelai impor memang lebih murah, tapi, sementara kedelai kita harganya di catatan kami Rp 8.000/kg. Tapi kan nggak ada rekayasa genetik, lebih sehat," ujar Dwi ditemui di Hotel Santika, TMII, Jakarta, Kamis (15/12/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, meski berukuran lebih kecil, dengan karakteristik seperti itu, membuat kedelai lokal sebenarnya masih memiliki pasar yang menarik.

"Lebih sehat, jadi ada peluang bisnis dari tanaman kedelai lokal, pasarnya bagus," ujar Dwi.

Menurutnya, Kementan saat ini lebih memfokuskan pada program swasembada jagung dan padi terlebih dahulu. Sementara swasembada kedelai paling tidak baru bisa diupayakan pada tahun 2020 mendatang.

"Kedelai ini kan persoalannya banyak, OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), harga kedelai, dan sebagainya. Dari harga orang cenderung lebih memilih tanam jagung," ungkap Dwi.

Indonesia sendiri setiap tahun mengimpor rata-rata 2 juta ton kedelai, terbesar berasal dari AS. Sementara kebutuhan jagung domestik sebesar 2,7 juta ton, dengan produksi kedelai lokal baru 885.000 ton per tahun. (dna/dna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads