Direkur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Dwi Iswari, mengungkapkan sebenarya lebih bergizi karena genetikanya masih asli, berbeda dengan kedelai impor asal Amerika Serikat (AS) yang kedelainya sudah melalui rekayasa genetik.
"Kedelai impor memang lebih murah, tapi, sementara kedelai kita harganya di catatan kami Rp 8.000/kg. Tapi kan nggak ada rekayasa genetik, lebih sehat," ujar Dwi ditemui di Hotel Santika, TMII, Jakarta, Kamis (15/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lebih sehat, jadi ada peluang bisnis dari tanaman kedelai lokal, pasarnya bagus," ujar Dwi.
Menurutnya, Kementan saat ini lebih memfokuskan pada program swasembada jagung dan padi terlebih dahulu. Sementara swasembada kedelai paling tidak baru bisa diupayakan pada tahun 2020 mendatang.
"Kedelai ini kan persoalannya banyak, OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), harga kedelai, dan sebagainya. Dari harga orang cenderung lebih memilih tanam jagung," ungkap Dwi.
Indonesia sendiri setiap tahun mengimpor rata-rata 2 juta ton kedelai, terbesar berasal dari AS. Sementara kebutuhan jagung domestik sebesar 2,7 juta ton, dengan produksi kedelai lokal baru 885.000 ton per tahun. (dna/dna)










































