APBN-P 2016 akan Selesai, Wajah Dua Dirjen Sri Mulyani Tegang

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 20 Des 2016 20:41 WIB
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2016 akan selesai dalam beberapa hari ke depan. Ini merupakan periode yang cukup menegangkan bagi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), khususnya Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) dan Ditjen Bea Cukai.

Hal ini diakui oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, usai mengumumkan tim reformasi perpajakan di Kantor Pusat Pajak, Jakarta, Selasa (20/2016).

"Kita masih fokus pada APBN-P 2016, tinggal beberapa hari. Lihat saja wajah Pak Ken (Dirjen Pajak) sama Pak Heru (Dirjen Bea Cukai) masih tegang," ungkapnya.
Dirjen Pajak, Ken DwijugiasteadiFoto: Maikel Jefriando
Dirjen Pajak, Ken Dwijugiasteadi

Sri Mulyani menyatakan, anggaran negara masih dalam batas yang aman. Artinya defisit anggaran diperkirakan pada rentang 2,5-2,7% atau masih di bawah batas yang ditentukan oleh UU keuangan negara.

"APBN itu unik Undang-Undang-nya. Penerimaan adalah proyeksi, belanja itu fix. Sehingga memang APBN harus selalu menjaga bagaimana penerimaan yang merupakan proyeksi yang pasti tidak akan hundred percent akurat, tapi belanja itu sudah pasti. Karena kita sudah mengeluarkan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Dan ini yang harus kita kelola secara terus menerus," paparnya.
Dirjen Bea Cukai Heru PambudiFoto: Ari Saputra
Dirjen Bea Cukai, Heru Pambudi

Untuk tahun depan, Sri Mulyani mengakui akan ada tantangan dari sisi harga minyak dunia yang diperkirakan banyak pihak akan meningkat. Harga minyak memang menjadi salah satu komponen asumsi makro ekonomi

yang berpengaruh terhadap penerimaan dan belanja. Meski demikian, komponen tersebut akan dilihat dalam kurun waktu satu tahun. Bukan bersifat harian.

"Mengelola APBN tidak merespons tiap hari. Kalaupun ada tren dari harga minyak, nilai tukar, perdagangan internasional, bahkan kalau ada bencana alam, kita harus melakukan dalam konteks satu tahun anggaran," kata Sri Mulyani.

"Jadi kami akan terus melakukan simulasi untuk mengantisipasi apa artinya. Tapi kalau setiap kali ada kejadian saya memberikan statement maka akan memberikan kebingungan," ujarnya. (mkl/hns)