Kekecewaan Darmin di Usia ke-68: Bangsa Masih Begini-begini Saja

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 21 Des 2016 12:45 WIB
Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Menko Perekonomian Darmin Nasution menyimpan kekecewaan yang cukup dalam hingga sekarang terhadap bangsa Indonesia. Kekecewaan itu dikarenakan Indonesia yang kaya akan potensi, namun tidak bisa dioptimalkan dengan baik.

Demikian disampaikan Darmin saat merayakan hari ulang tahun yang ke-68 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Pernyataan ini muncul saat mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut ditanyakan soal pencapaian hidup. Ia mengakui, secara pribadi sebenarnya sudah cukup, akan tetapi sebagai bangsa masih jauh dari yang diharapkan.

"Bahwa kita itu sebagai bangsa masih begini-begini saja itu cukup menyedihkan. Nggak patut mestinya kita seperti ini. Kita begitu banyak diberikan Tuhan. Karena itu saya kecewa," ungkapnya.

Beruntung, Darmin sekarang masih bisa mengabdi sebagai Menko Perekonomian. Ia menyatakan, banyak hal yang masih bisa dilakukan untuk negara agar menjadi lebih baik dari sekarang. Baginya bekerja adalah sebuah kesenangan.

"Saya setiap hari ingin menganggap ini adalah masa terakhir saya bisa melakukan sesuatu. Dan saya nggak pernah peduli akhirnya itu besok atau hari ini. Jalani saja," kata Darmin.

Darmin menuturkan, hari ulang tahun hanyalah sebuah penanda. Hidup dihitung menurutnya adalah siang dan malam yang terus berganti. Usia ke-68 tahun bagi Darmin adalah anugerah yang luar biasa, yang artinya masih bisa bermanfaat bagi siapa pun.

"Orang hidup itu kalau tidak bisa melakukan sesuatu, rangkaian yang baik ya sayang sekali. Nggak bisa diulang. Hidup ini hanya sekali. Sebaik apapun kita melakukan, kita selalu merasa banyak yang salah dan kurang," ujarnya.

"Tapi ya nggak ada yang sempurna dalam hidup. Dalam ketidaksempurnaan itu, kita menggunakan energi yang ada pada kita semaksimal mungkin lakukan yang terbaik," tegas Darmin.

Darmin sudah melewati berbagai masa pemerintahan. Paling dekat ketika Darmin menjadi Dirjen Pajak saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Menko Perekonomian di era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Masing-masing posisi memiliki tingkat tanggung jawab yang berbeda.

"Ya itu perjalanan aja lah perjalanan kita ada percobaan, ya itu kesempatan untuk melakukan sesuatu," paparnya.

Akan tetapi, bila dirinci lebih jauh, Darmin mengaku, Dirjen Pajak adalah posisi paling berat. Kemudian adalah Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Kepala Bapepam LK.

"Di BI itu tekanan kalau misalnya inflasi, kurs dan segala macam. Kalau di pajak itu ya angka target. Mana yang paling menekan ya pasti pajak. Itu paling menekan, kalau nggak tercapai ya nggak hilang dari pikiran," terang Darmin. (mkl/drk)