Deputi Bidang Usaha Energi Logistik Kawasan dan Pariwisata, Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan meski sama-sama perusahaan pelat merah, beberapa BUMN ini seolah berjalan sendiri-sendiri sesuai kepentingan bisnisnya masing-masing.
"PLN grup sendiri, Pertamina grup sendiri, PGN grup sendiri. Mareka jadi grup sendiri-sendiri, bukan sebagai satu kesatuan BUMN," ucap Edwin, dalam seminar 'Holding BUMN' di Masgister Manajemen UI, Salemba, Jakarta, Rabu (21/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BUMN nggak kayak grupnya Sinarmas, grupnya Astra dan lainnya. Budaya BUMN ini sudah terbentuk lama, kultur yang berbeda, mereka seolah-olah grup bisnis sendiri. Ini yang yang jadi challenge. Kalau PGN dan Pertamina dijadikan satu untuk kepentingan bisnis strategis, agar infrastruktur gas terintegrasi," ungkapnya.
Menurutnya, dalam pembentukan holding sendiri dilakukan sebagai upaya untuk mendukung kepentingan strategis. Salah satunya menggabungkan PGN dan Pertamina dalam satu induk agar bisa menyediakan harga gas yang lebih murah.
"Ada kepentingan di migas harus diintegrasikan untuk support program 35.000 megawatt (MW). Tanpa infrastruktur terintegrasi, sulit tekan harga gas dan buat PLN lebih efisien. Ini bukan merger, tapi hanya holding. Transformasi bisnis harus tetap dilakukan, kultur baru harus dibentuk," tandas Edwin. (wdl/wdl)











































