"Memang, kita tidak bisa berharap muluk-muluk. Sebagaimana yang selalu disuarakan oleh Pemerintahan Joko Widodo, kondisi ekonomo global masih sangat rapuh untuk kita jadikan acuan pertumbuhan yang tinggi. Saya sepakat dengan Pemerintah yang senantiasa realistis dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini. Karena itu pula, kita bisa memahami sepenuhnya mengapa pemerintah menetapkan asunsi target pertumbuhan ekonomi dalam negeri di tahun 2017 sebesar 5,1%," kata Wakil Ketua DPR RI Bidang Ekonomi Dan Keuangan, Taufik Kurniawan, dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/12/2016).
Meski demikian, menurut Taufik, target tersebut akan bisa terealisasi dengan berpegang pada efektivitas kebijakan pemerintah dalam memitigasi resiko ekonomi dari dalam negeri maupun luar negeri, serta perkembangan reformasi ekonomi dengan serangkaian jilid yang telah dijalankan selama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski stabilitas tersebut bisa disebut sebagai keberhasilan dalam rangka mempertahankan pertumbuhan di kisaran 5% yang lebih tinggi dari triwulan yang sama tahun sebelumnya yang hanya berkisar 4,7%.
Suatu hal yang sulit kita pungkiri adalah pertumbuhan yang stabil tersebut tidak lepas dari sumbangan terbesar dari sektor konsumsi (53,8%) dan investasi (31,6%). Keduanya menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan tahun ini.
Namun di saat yang sama pengetatan dan penurunan pengeluaran anggaran pemerintah di tahun ini tentu saja akan berimbas pada target pertumbuhan 2017 yang akan datang.
Tahun ini, Inodonesia juga berulang kali dicemaskan oleh realitas pertumbuhan ekonomi China dan AS yang cenderung menurun. Dua negara yang saat ini menjadi kiblat ekonomi dunia di tengah progresivitas ekspor dan impor yang membuat ketergantungan negara-negara semisal Indonesia sulit untuk dihindari.
Apalagi melihat kecenderungan ekonomi global, China dan AS pun sedang dilanda gerakan revisi kebijakan ekonomi yang setiap saat mempengaruhi ekonomi dalam negeri, khususnya nilai tukar rupiah.
Perubahan kebijakan China yang bergeser dari investasi dan industri ke jasa diduga turut menyebabkan semakin turunnya harga komoditas dan energi dunia pada triwulan II-2016.
Kebijkan Ekonomi China yang awalnya terfokus pada pengejaran target pertumbuhan dengan mendorong peningkatan investasi justru tidak berkesinambungan.
"Muncul kredit macet dan menyulitkan upaya China untuk tetap bertumbuh. Pada gilirannya, di akhir 2016, China nampaknya akan melonggarkan target pertumbuhannya dengan mengendalikan kredit," jelasnya.
Tentu saja hal ini akan berimbas pada hubungan Indonesia-China yang selama ini didominasi oleh transaksi ekspor-impor dan investasi yang cukup besar China di Indonesia.
Di lain pihak, kondisi ekonomi AS juga mengalami pelambatan yang signifikan. Pertumbuhan PDB negeri Paman Sam tersebut sebesar 1,3% (y-o-y) atau 1,4% yang notabene berada di bawah ekpektasi. Hal ini ditindaklanjuti dengan kebijakan menaikkan suku bunga yang sebelumnya tidak terjadi selama 1 tahun belakangan ini.
Fenomena kesuksesan Donald Trump menduduki pucuk kekuasaan pemerintahan AS tentu jug mengalami efek yang tidak kecil. Dengan gaya dan postur republikannya, Trum sudah meggadang-gadang akan memangkas pajak bagi kalangan berpenghasilan tinggi demi menstimulasi pertumbuhan ekonomi di tingkat elit.
Namun tentu saja akan berimbas pada penurunan pendapatan pemerintah AS. Sebab di satu sisi akan memberi insentif bagi swasta, di sisi lain akan akan memperparah ketimpangan pendapatan.
Trump juga terkenal proteksionis agresif terhadap perdagangan dengan Meksiko dan China. Sebuah kebijakan yang akan berimbas pada negara-negara yang selama ini menjalin hubungan dagang dengan China semisal Indonesia.
"Kebijakan proteksionis agresif ditambah lagi dengan kebijakan yang tertutup akan menyebabkan tingkat ketidakpastian bagi ekonomi dunia secara global," katanya.
Menurutnya, Indonesia akan memperoleh imbas signifikan. Khususnya dari sektor fiskal. Selama ini, pendapatan dalam negeri sangat bergantung pada pemasukan pajak, sebesar 80% dari keseluruhan APBN. Sementara itu, selama ini pula target penerimaan pajak jauh dari realisasi target yang dicanangkan.
"Kita mengapresiasi sepenuhnya terobosan pemerintah melalui kebijakan program Tax Amnesty. Pemerintah begitu antusias dan menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam mengawal program tersebut," ujarnya.
Ia memprediksi, program ini akan menghasilkan pemasukan dana repatriasi sebesar Rp 180 triliun sebagaimana prediksi Bank Indonesia. Dari dana tersebut, 30% akan masuk ke dalam sektor riil yang akan menstabilkan daya beli dan konsumsi masyarakat secara umum.
Hal ini pula diprediksi akan menyumbang 0,3% pertumbuhan pada 2017 mendatang.
"Kita berharap stimulus fiskal akan terus terjamin di tahun depan. Program Tax Amnesty adalah salah satu poin penting dalam mereformasi sumber pemasukan negara (pajak). Kita perlu memberi dukungan penuh. Tentu saja dana repatriasi yang selama ini diterima tersalurkan dengan baik di kantong-kantong sektor riil," ujarnya.
Ia berharap pada gerak laju investasi saat ini bisa berlangsung dengan baik. Kondisi dalam negeri harus tetap kita jaga agar suasana yang kondusif dapat memberi kepercayaan yang tinggi bagi investasi di berbagai sektor.
"Dukungan dari seluruh komponen bangsa akan memastikan target pertumbuhan 2017 akan sesuai dengan rencana," imbuhnya. (ang/ang)











































