Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo, mengungkapkan impor beras tak bisa dihindari lantaran beras yang didatangkan dari luar merupakan beras khusus.
"Setiap bulan ada impor beras, tapi juga ada ekspor beras. Kita butuh beras premium seperti beras Jepang, beras mandi, beras untuk restoran India. Jadi berasnya harus beras khusus yang hanya bisa diproduksi di wilayah mereka," jelasnya di kantor BPS, Jakarta, Kamis (29/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebetulnya impor di Januari, Februari, dan Maret ada lonjakan. Itu dari kontrak lama di 2015, negara eksportir baru kirimkan berasnya di 2016. Jadi itu residu atau sisa impor dari tahun lalu," ujar Sasmito.
Data BPS, impor pada awal 2016 sendiri memang mengalami lonjakan. Pada Januari impor beras tercatat sebesar 382.550 ton, Februari 296.370 ton, Maret 303.080 ton. 2
Selain itu lanjutnya, Indonesia juga sebenarnya mengekspor beras rutin setiap bulan, meski diakuinya volumenya masih kecil.
Ekspor beras Indonesia seperti pada Januari tercatat 90 ton, Februari 530 ton, Maret 10 ton, April 150 ton, Mei 20 ton, Juni 90 ton, juli 80 ton, Agustus sampai Oktober tidak ada ekspor, dan November 30 ton. (idr/hns)











































