Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Gardjita Budi, mengakui dari sekitar 1.300-an TTI yang sudah dibuka di sejumlah daerah, ada yang tidak bisa bertahan, atau masih buka namun sepi pembeli, namun ada pula yang masih ramai dikunjungi seperti yang terjadi di TTI Center Pasar Minggu, Jakarta.
"Situasi TTI sepi, saya katakan iya. Dari 1.300-an ada di daerah tertentu yang buka seminggu 4 kali sudah bagus, sebelum puasa ramai. Jadi sepi karena harga di sekitarnya sudah nggak bergejolak," kata Gardjita di kantor Kementan, Jakarta, Jumat (30/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kan dibatasi beli beras dan bawang misalnya. Beras maksimal 2 karung kecil 10 kg, kalau kita jual 1 ton nanti pindah (dijual) ke sebelah, makanya kita batasi agar nggak dimainkan. Beli di TTI beras Rp 7.900/kg kualitas bagus, dicemplungin ke pasar lain," ujar Gardjita.
Menurutnya, evaluasi TTI di tahun depan yakni hanya fokus di wilayah Jabodetabek saja. Di sisi lain, pihaknya juga akan memberikan bantuan fasilitas untuk pedagang di TTI agar bisa memasok daging sapi beku dan kerbau India, selama ini TTI lebih banyak diperuntukkan untuk menjual beras.
"Di 2016 kita evaluasi yang bolong-bolong, nggak semua TTI di provinsi efektif. Tahun depan TTI fokus di Jabodetabek, Insya Allah di 2017 ada fasilitas buat handle daging sapi (beku) dan kerbau, diberikan bantuan sehingga mereka bisa jual untung, seperti bantuan listriknya dan freezer," pungkas Gardjita.
Perlu diketahui, konsep TTI sendiri yakni jadi tempat produsen bahan pangan, termasuk petani, untuk memasarkan hasil produknya secara langsung kepada konsumen.
Beberapa komoditas pangan yang dijual TTI ini antara lain daging sapi Rp 75.000/kg, gula pasir Rp 12.000/kg, daging ayam Rp 30.000/kg, bawang merah Rp 23.000/kg, bawang putih Rp 22.000/kg, beras Rp 7.900/kg, dan minyak goreng Rp 9.500/liter. (idr/hns)











































