AP II Mau Bikin Kampung Kargo, Proses Tender Dimulai Februari 2017

AP II Mau Bikin Kampung Kargo, Proses Tender Dimulai Februari 2017

Yulida Medistiara - detikFinance
Minggu, 01 Jan 2017 15:42 WIB
AP II Mau Bikin Kampung Kargo, Proses Tender Dimulai Februari 2017
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Anak usaha PT Angkasa Pura II, yakni PT Angkasa Pura Kargo akan membuat proyek cargo village (kampung kargo) untuk memecahkan masalah kelebihan kapasitas penampungan kargo. Proses tender akan dibuka untuk semua investor dimulai pada Februari 2017 ini.

Direktur AP II, Muhammad Awaluddin mengatakan, nantinya ada 2 macam tender, ada tahap untuk pembangunan infrastruktur yang menyangkut fasilitas seperti gudang atau Pusat Logistik Berikat yang ditargetkan mulai pada April atau Mei 2017. Serta tender untuk terminal kargo sebagai operatornya akan dilakukan pada Februari 2017.

"Tender untuk terminal kargo akan dibuka untuk operatornya pada Februari 2017, tapi kalau infrastruktur dan fasilitasnya diperkirakan paling cepat April atau Mei, tapi nanti selesainya bersamaan," kata Awaluddin kepada detikFinance, Minggu (1/1/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fasilitas ini dibangun untuk mempersiapkan Bandara Soetta sebagai salah satu pusat distribusi atau hub kargo internasional. Ia menyebut, nantinya terminal kargo tidak menutup kesempatan untuk investor asing karena membutuhkan sistem yang terintegrasi dengan jaringan global untuk jalur distribusi internasional.

"Tender infrastruktur dan operator memungkinkan AP II bekerja sama dengan pemain terminal operator kargo yang sudah eksis di luar karena pengalaman dan pemahaman mereka untuk mengelola transportasi udara besar itu sudah termasuk pengalaman karena kan sudah memiliki sistem jaringan lokal, investor lokal juga nggak apa-apa. Tapi kalau tender untuk infrastruktur itu pasti lokal yang bangun warehouse dan fasilitasnya," ujarnya.

Sedangkan proses pembuatan infrastruktur pendukung akan dibuka kesempatan bagi investor lokal saja misalnya BUMN Karya seperti Wijaya Karya, Waskita Karya, dan lainnya.

Di dalam gudang atau PLB tersebut nantinya dapat memfasilitasi ekspor dan impor alat elektronik, produk berteknologi digital, hingga peralatan maintenance peralatan pesawat. Namun, untuk pengiriman produk consumer goods tidak bisa singgah di PLB terminal kargo ini karena akan menambah cost yang besar.

"Kita melihat peluang di dalam cargo village mau ada PLB, jadi alat-alat teknis komponen ICT. Termasuk transport MRO seperti Garuda itu banyak perangkat teknis engineering dan alat-alat yang di situ itu langsung dikirim dari luar nanti bisa masuk. Termasuk orang-orang mau ekspor seperti perangkat elektornik dan digital tekknologi," kata Awaluddin.

"Tapi kalau logistiknya fast moving atau consumer goods, barang-barang itu kapasitasnya nggak terlalu besar tidak bisa karena ini logistik yang relates dah bisa support transportasi udara," imbuhnya. (drk/drk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads