Rampung 2018, Akses ke Kampung Kargo Dilewati Tol dan Kereta Bandara

Rampung 2018, Akses ke Kampung Kargo Dilewati Tol dan Kereta Bandara

Yulida Medistiara - detikFinance
Minggu, 01 Jan 2017 19:15 WIB
Rampung 2018, Akses ke Kampung Kargo Dilewati Tol dan Kereta Bandara
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Anak usaha PT Angkasa Pura II, PT Angkasa Pura Kargo akan membuat proyek cargo village atau kampung kargo di Bandara Soekarno Hatta. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2018.

Kampung Kargo ini akan dibangun di lahan seluas 90 hektar dengan target muatan kargo sebanyak 1,5 juta ton. Lahan 90 hektar tersebut merupakan milik AP II sehingga tidak ada pembebasan lahan.

Kampung Kargo ini nantinya akan ada dua akses darat, yaitu melalui Tol Bandara seperti Tol Kunciran, serta fasilitas kereta logistik. Kereta logistik ini sebagian akan menggunakan jalur kereta bandara, nantinya KAI dan AP II akan bekerja sama membangun jalur khusus dari stasiun penumpang menuju logistik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jalur Tol Kunciran sekarang itu sebagian sudah ada. Jadi ada beberapa jalur tol yang akan dibangun, itu masih butuh waktu, yang mana itu mungkin saja tidak bersamaan dengan pembangunan cargo village, makanya itu salah satunya angkutan kereta bandara. Jalurnya sama tapi tambahannya ke arah apron lini satu atau gudang. Kalau orang di terminal station kereta, berbeda," kata Dirut AP II Muhammad Awaluddin, kepada detikFinance, Minggu (1/1/2017).

Rencananya, dalam cargo village tersebut terdiri dari terminal kargo yang dapat menjadi hub internasional dan gudang atau Pusat Logistik Berikat.

Selain itu, beberapa fasilitas yang akan dibangun misalnya tempat parkir pesawat atau apron, perkantoran, commercial building, forwarder building, regulated agent, power house, fasilitas umum seperti masjid, infrastruktur penunjang dan fasilitas/utilitas, parkir mobil dan truk, serta fasilitas sosial lainnya.

Nantinya, sarana dan fasilitas antara terminal kargo dengan infrastrukturnya ditargetkan selesai pada 2018.

"Apronnya akan selesai di awal 2018, sedangkan bangunan kargonya bisa selesai di pertengahan 2018, jadi pertengahan 2018 sudah final sehingga tidak ada yang di carry over ke 2019," kata dia.

Bila cargo village ini menjadi hub internasional, diharapkan pengiriman kargo ke luar negeri dapat langsung dari Indonesia. Beberapa perusahaan jasa logistik (pengiriman barang) internasional seperti FedEx, DHL dapat menambah bisnis pesawat kargonya yang selama ini terbatas.

"Ini logistik yang relates dan bisa support transportasi udara. Lini satunya jelas terhubung ke airport dan kargo sehingga perusahaan jasa logistik seperti FedEx, DHL, atau transporter kargo airlines ini dapat menambah pesawatnya lagi, yang sekarang masih dibilang masih terbatas padahal layanan logistik internasional ini banyak permintaan, sekarang yang lini satu cuma 7 atau 8," ujarnya.

"Misalnya Fedex jaringannya banyak mereka punya sistem dan jalurnya sudah terkoneksi kita senang mereka masuk jadi pelanggan kita artinya daya angkut itu banyak bukan cuma destinasinya," imbuhnya.

Selain itu, untuk mendukung terminal kargo tersebut, akan dibangun Pusat Logistik Berikat yang akan menjadi gudang penyimpanan yang akan memfasilitasi keluar masuknya alat elektronik atau produk berteknologi tinggi seperti ICT dan peralatan maintenance pesawat terbang.

"Kita melihat peluang di dalam cargo village mau ada PLB, jadi alat-alat teknis komponen ICT. Termasuk transport MRO seperti Garuda itu banyak perangkat teknis engineering dan alat-alat yang di situ itu langsung dikirim dari luar nanti bisa masuk. Termasuk orang-orang mau ekspor seperti perangkat elektronik dan digital teknologi," kata Awaluddin. (drk/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads