Setibanya di Lokasi, Spudnik langsung disambut oleh para petani yang ada di sana. Kemudian, Spudnik langsung berkeliling melihat kondisi lokasi pertanian cabai di sana.
Di Desa Cokro dan Baleagung, Spudnik pun melihat kondisi dari pertanian cabai yang sebentar lagi panen. Selain itu, mengecek secara langsung stok cabai dari para petani yang ada di sana.
Foto: Fadhly Fauzi RachmanLahan cabai di Magelang |
Menurut Spudnik, meski belakangan ini kerap hujan, tidak mempengaruhi produksi cabai di petani, stok juga masih cukup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, menurut Spudnik, tingginya harga cabai rawit merah di beberapa daerah disebabkan oleh efek domino yang terjadi.
"Saya bisa memahami harga bisa menembus Rp 100.000/kg apabila barangnya tidak ada, tapi ini barangnya ada. Ini kan ekspektasi yang dibuat oleh pedagang, kemudian di media di publikasi, seolah-olah ya tadi, efek domino sehingga di bawah harga juga menjadi tinggi," lanjutnya.
Ia juga mengatakan, sejumlah pedagang mengambil untung terlalu besar dari harga yang dibeli langsung ke petani.
Foto: Fadhly Fauzi RachmanLahan cabai di Magelang |
"Kalau petani yang masih menikmati (harga) saya masih bisa paham, tapi jangan kemudian pedagang yang hanya memindahkan dapat Rp 40.000-Rp 60.000. kan enak tenan. Makanya saya bilang, harga Rp 70.000 tapi di petani Rp 60.000, dia (pedagang) dapat Rp 10.000, saya bisa terima. Lah ini harga di petani, dia (pedagang) beli Rp 40.000, dia beli Rp 60.000, dia jual Rp 120.000. (Pedagang untung) Rp 60.000 duduk-duduk hanya pindahin, itu nggak adil. Saya nggak terima," kata dia.
"Jadi bukan karena suplai dan demand, tapi saya cenderung ini adalah ekspektasi pedagang saja," tuturnya.
Anda bisa menyaksikan video menarik dari 20detik di sini:











































Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Foto: Fadhly Fauzi Rachman