"Harga Rp 90.000/kg itu kemarin, hari ini turun. Saya jualnya Rp 75.000/kg. Kalau ada yang jual Rp 80.000/kg ya nggak apa-apa, saya ambil untungnya sedikit," ujar Junaedi, salah satu pedagang cabai di Pasar Pabean Surabaya kepada detikcom, Senin (9/1/2017).
Menurut Junaedi, kenaikan cabai rawit merah dimulai pada pertengahan Desember 2016 lalu. Mulai dari harga sekitar Rp 35.000/kg, merangkak naik antara Rp 5.000-Rp 10.000/kg dalam 2-3 hari. Di November 2016, harga cabai rawit merah sempat turun hingga Rp 15.000/kg.
Foto: Imam WahyudiyantaPedagang cabai di Surabaya |
"Cabai rawit pas November malah murah, cuma Rp 15.000/kg. Lebih murah dari cabai merah yang Rp 20.000/kg, tambah Junaedi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambah lagi, pedagang cabai Jakarta berani membeli dengan penawaran harga yang lebih tinggi dari pedagang cabai di Surabaya.
"Petani cabai lebih mementingkan permintaan dari Jakarta karena mereka menawar lebih tinggi. Misalnya kami menawar Rp 18.000, mereka berani menawar Rp 20.000 Jadi pedagang cabai Jakarta yang lebih diutamakan," lanjut Junaedi.
Senada dengan Junaedi, pedagang cabai lain, Salam, menambahkan bahwa cuaca adalah alasan petani kekurangan stok cabai. Musim hujan membuat panen kurang maksimal. Ditambah lagi libur Natal dan Tahun Baru membuat petani kekurangan pekerja untuk memanen cabai.
"Alasan dari petani begitu karena saya langsung mengambil dari petani. Karena mahal, saya ambilnya nggak banyak, kata Salam.
Bila biasanya Salam membeli dari petani 2-3 kuintal, maka saat ini Salam hanya membeli 1 kuintal cabai rawit merah. Karena pembeli pun mengurangi jumlah pembeliannya. Kalau biasanya orang 12 kg, sekarang hanya beli 7-8 kg.
Untuk ke depannya, baik Junaedi dan Salam memprediksi bahwa harga cabai rawit merah masih mahal antara Rp 60.000-Rp 80 ribu.000/kg. Harga cabai rawit merah diperkirakan akan turun bulan Februari karena pada saat itu sejumlah daerah lain seperti Madura dan Mataram akan mengalami musim panen cabai.
Salah satu pembeli, Abdul Kadir, mengatakan bahwa harga cabai khususnya cabai rawit merah memang lebih malah saat ini. Tetapi bagaimanapun dia harus tetap membeli karena dia mempunyai warung penyet.
"Memang lebih mahal, tetapi tetap harus beli karena salah satu yang saya jual adalah cabai alias sambal," ujar Abdul.
Untuk menyiasatinya, Abdul mencampur cabai rawit merah dengan cabai merah dan cabai rawit hijau yang harganya lebih murah. Itu harus dilakukan Abdul sehingga ia tak perlu menaikkan harga dagangannya.
"Pokoknya jualan harus jalan terus meski cabai rawit merah mahal," tandas Abdul. (iwd/hns)












































Foto: Imam Wahyudiyanta