Pertumbuhan Ekonomi 5,1% dan Inflasi 3,02%, Jokowi: Ini Tidak Mudah

Pertumbuhan Ekonomi 5,1% dan Inflasi 3,02%, Jokowi: Ini Tidak Mudah

Maikel Jefriando - detikFinance
Jumat, 13 Jan 2017 11:46 WIB
Pertumbuhan Ekonomi 5,1% dan Inflasi 3,02%, Jokowi: Ini Tidak Mudah
Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Indonesia mencatatkan data ekonomi yang cukup baik di tengah adanya perlambatan ekonomi global. Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sampai 5,1% selama 2016 dan inflasi sudah terealisasi sebesar 3,02%. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan raihan tersebut tak mudah diperoleh.

"Ini juga bukan angka yang mudah diperoleh," kata Jokowi saat pertemuan awal tahun pelaku Industri Jasa Keuangan di Istana Negara, Jumat (13/1/2017).

Jokowi menjelaskan, kondisi ekonomi dunia masih dalam perlambatan. Dalam dua tahun terakhir muncul persoalan serius yang datang dari Yunani, Inggris, China hingga Amerika Serikat (AS). Paling dekat adalah ketidakpastian yang datang pasca terpilihnya Presiden AS Donald Trump.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akan tetapi Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, bersama dengan India dan China. Sementara negara lain bahkan jatuh sampai ke jurang krisis ekonomi.

"Tahun ini kita menginginkan agar optimis, jangan ada kata-kata pesimis. Kesulitan apapun, tantangan apapun harus dihadapi dengan rasa optimisme. Karena ini masalahnya psikologis," ujar Jokowi.

Dari sisi inflasi, raihan 3,02% juga terhitung cukup bagus. Di mana artinya masyarakat tetap mendapatkan keuntungan atas selisih dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

"Saya selalu sampaikan apa sih hubungan pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Percuma pertumbuhan ekonomi 6% tapi inflasi 9%, ya rakyat tekor. Tapi hal seperti itu secara sederhana enggak pernah disampaikan kepada rakyat. Apa manfaat inflasi dan manfaat dari pertumbuhan ekonomi," paparnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengambil peran dalam stabilisasi sistem keuangan nasional. Di antaranya adalah dengan peningkatan konstribusi sektor jasa keuangan dalam menyediakan pembiayaan bagi berbagai kegiatan usaha, dari kelas kecil, menengah hingga besar secara jangka pendek maupun jangka panjang.

Di samping itu penyaluran kredit juga diarahkan ke sektor-sektor ekonomi prioritas seperti infrastruktur, pangan dan energi, kemaritiman, kesehatan dan sektor-sektor prioritas Iainnya

"Untuk tahun 2017, kami telah menyiapkan beberapa inisiatif yang akan berfokus pada 2 hal, yakni upaya meningkatkan peran sektor jasa keuangan dalam pembangunan ekonomi nasional serta upaya untuk terus menjaga stabilitas sistem keuangan," terang Muliaman ada kesempatan yang sama. (mkj/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads