Lampion Made in Malang Sudah Terbang Hingga ke Eropa

Lampion Made in Malang Sudah Terbang Hingga ke Eropa

Muhammad Aminudin - detikFinance
Selasa, 17 Jan 2017 10:42 WIB
Lampion Made in Malang Sudah Terbang Hingga ke Eropa
Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Berasal dari gang sempit, Jalan Juanda Gang V, Kota Malang, Syamsudin (30), menciptakan sebuah karya lampion yang dikenal sampai Eropa. Sudah belasan tahun, pria bernama lengkap Ahmad Syamsudin ini menggeluti bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan.

"Maaf, saya sambil kerja ya, ini pesanan harus selesai tanggal 21 Januari nanti," kata Syamsudin ditemui detikFinance, Selasa (17/1/2017).

Memang saat didatangi, Syamsudin sibuk menyiapkan kawat besi sebagai bahan lampion, dibantu satu pekerjanya. Dia mengaku, harus menyelesaikan 2.500 lampion China pesanan dari Prancis, dan seribu lampion untuk melayani pesanan dari Italia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka yang tentukan motif atau desain, kita membuatnya. Dan harus selesai dengan jadwal," ujar bapak dua anak ini.

Lampion <i>Made in</i> Malang Sudah Terbang Hingga ke EropaFoto: Muhammad Aminudin

Lampion karya Syamsudin memang banyak diminati warga Eropa, setiap pesta panen atau menjelang imlek, yang tahun ini jatuh pada 28 Januari 2017, selalu banjir pesanan.

"Yang banyak justru dari luar negeri, saya kadang enggak kenal sama pemesan. Tapi rutin mereka beli. Kalau lokal, biasanya Jakarta, Surabaya atau luar Jawa," sebut Syamsudin.

Dalam membuat satu lampion, Syamsudin membutuhkan waktu tidak kurang sampai 1 jam, kayu rotan yang dibalut dengan kain peles adalah bahannya. Selama memenuhi pesanan, dia tidak sendiri, melainkan dibantu sembilan orang pekerja.

Kediaman Syamsudin bernomor 2430 yang tidak begitu luas, jadinya penuh dengan lampion. Bahkan, ruang belakang menjadi tempat produksi rangka lampion.

"Ada pekerja 9, sehari minimal harus 15 lampion terselesaikan," terangnya.

Soal harga, Syamsudin memang memiliki patokan sendiri. Biasanya, mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp 9 juta, tergantung dari jenis lampion. Jika semakin sulit, maka harga pun melambung.

Lampion <i>Made in</i> Malang Sudah Terbang Hingga ke EropaFoto: Muhammad Aminudin

Syamsudin berkisah, sejak dibangku SMP sudah mengenal kerajinan lampion. Dirinya bahkan nekat merantau ke Pulau Dewata untuk menjadi buruh di tempat usaha tetangganya.

Dari situlah keahlihan Syamsudin membuat lampion mulai terasah sampai memutuskan pulang kampung dan merintis usaha sendiri.

"Saya jualan online, mungkin melalui itu dikenal orang-orang," tutur Syamsudin.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads