Bank Dunia: RI Berhasil Lewati Situasi Berat di 2016

Bank Dunia: RI Berhasil Lewati Situasi Berat di 2016

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 17 Jan 2017 11:55 WIB
Bank Dunia: RI Berhasil Lewati Situasi Berat di 2016
Foto: Maikel Jefriando-detikFinance
Jakarta - Periode 2016 merupakan rentang waktu yang sulit bagi banyak negara di dunia. Berulang kali ada persoalan di suatu negara menimbulkan ketidakpastian global dan menjadi sentimen negatif bagi negara lain.

Paling tidak adalah situasi terakhir yang muncul pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Serentak pasar keuangan banyak negara terkena gejolak. Meski besaran gejolaknya beragam.

Indonesia menjadi salah satu negara yang berhasil melalui situasi tersebut. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot. Tetapi tidak terjadi cukup dalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam beberapa bulan terakhir muncul ketidakpastian global yang cukup berat. Semua negara di dunia merasakannya tapi Indonesia cukup mampu melewatinya dengan baik," kata Rodrigo Chaves, Kepala Perwakilan Bank Dunia dalam acara Peluncuran Laporan Terbaru Ekonomi Indonesia di Pakarti Centre Building, Jakarta, Selasa (17/1/2017).

Chaves menyebutkan banyak negara yang terperosok cukup jauh dari kondisi sebelumnya, terutama negara berkembang. Bahkan seperti Brasil dan Rusia harus berjuang dari krisis ekonomi.

"Kadang-kadang hidup itu rumit," ujar Rodrigo.

Dalam catatan Bank Dunia, Indonesia yang cukup baik melewati gejolak terlihat pada depresiasi rupiah yang terjadi hanya 3% pada kuartal terakhir di 2016. Pasar ekuitas kembali membaik walau tidak sepenuhnya, setelah mengalami penurunan sebesar 3,6%.

Inflasi masih pada kisaran yang ditetapkan, yakni sebesar 3,02%. Faktornya utamanya adalah pengendalian harga beras dan bahan bakar. Pertumbuhan ekonomi dimungkinkan mencapai 5,1% pada 2016 yang didorong konsumsi rumah tangga dan investasi.

Pemerintah juga dianggap berhasil dalam mengendalikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dengan realisasi defisit 2,46% terhadap PDB pada akhir tahun. Padahal sebelumnya Bank Dunia memproyeksikan defisit mencapai 2,8% dari PDB. Ini juga tidak lepas dari optimalisasi kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty.

Di sisi lain, adanya perbaikan untuk kemudahan berusaha. Sebanyak 14 paket kebijakan yang sudah diluncurkan pemerintah berpengaruh terhadap masuknya investasi asing ke dalam negeri.

"Indonesia sudah berkomitmen untuk menjalankan reformasi, maka itu harus dilanjutkan agar menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas," paparnya. (mkj/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads