Paling tidak adalah situasi terakhir yang muncul pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Serentak pasar keuangan banyak negara terkena gejolak. Meski besaran gejolaknya beragam.
Indonesia menjadi salah satu negara yang berhasil melalui situasi tersebut. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot. Tetapi tidak terjadi cukup dalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chaves menyebutkan banyak negara yang terperosok cukup jauh dari kondisi sebelumnya, terutama negara berkembang. Bahkan seperti Brasil dan Rusia harus berjuang dari krisis ekonomi.
"Kadang-kadang hidup itu rumit," ujar Rodrigo.
Dalam catatan Bank Dunia, Indonesia yang cukup baik melewati gejolak terlihat pada depresiasi rupiah yang terjadi hanya 3% pada kuartal terakhir di 2016. Pasar ekuitas kembali membaik walau tidak sepenuhnya, setelah mengalami penurunan sebesar 3,6%.
Inflasi masih pada kisaran yang ditetapkan, yakni sebesar 3,02%. Faktornya utamanya adalah pengendalian harga beras dan bahan bakar. Pertumbuhan ekonomi dimungkinkan mencapai 5,1% pada 2016 yang didorong konsumsi rumah tangga dan investasi.
Pemerintah juga dianggap berhasil dalam mengendalikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dengan realisasi defisit 2,46% terhadap PDB pada akhir tahun. Padahal sebelumnya Bank Dunia memproyeksikan defisit mencapai 2,8% dari PDB. Ini juga tidak lepas dari optimalisasi kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty.
Di sisi lain, adanya perbaikan untuk kemudahan berusaha. Sebanyak 14 paket kebijakan yang sudah diluncurkan pemerintah berpengaruh terhadap masuknya investasi asing ke dalam negeri.
"Indonesia sudah berkomitmen untuk menjalankan reformasi, maka itu harus dilanjutkan agar menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas," paparnya. (mkj/hns)










































