Imbasnya mereka merugi karena minimnya keuntungan dari cabai yang dijual ke pengepul. Ujang (41) petani cabai asal Gunung Putri Cipanas misalnya, menurutnya bisa kembali modal dari hasil penjualan cabai saja sudah bagus dari 3 ton cabai hasil panen hanya bisa terjual sebanyak 3 persennya saja.
"Banyak cabai yang keburu membusuk saat dijual, ini pun terpaksa panen dini meski masih hijau kita jual karena kalau dibiarkan malah busuk terkena hujan, yang penting biaya tanam bisa terganti sudah masuk beruntung," tuturnya kepada detikcom, Rabu (18/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dan petani lainnya di sini terpaksa panen awal karena takut makin merugi lagi. Rusaknya memang parah. Bukan hanya di buahnya tapi juga di batangnya," ujar petani asal Takokak Cianjur ini.
Petani cabai rawit di Cianjur Foto: Syahdan Alamsyah |
Lebih jauh, Ansari menyebut jika gagal panen yang dialaminya paling parah dibanding panen sebelumnya. "Sama sekali nggak dapat keuntungan, balik modal saja enggak," imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopperindag) Kabupaten Cianjur, Himam Haris membenarkan adanya penyusutan hasil panen cabe rawit merah tersebut. Meski demikian kondisi tersebut tidak sampai menimbulkan kelangkaan di pasaran.
"Banyak yang busuk saat dipanen. Jika biasa per hektar petani bisa menghasilkan 6 ton, sekarang paling hanya 2 ton saja. Menyusutnya sekitar 80 persen," kata Himam saat ditemui di Kantor Bulog Sub Divre II Cianjur.
Meski berimbas pada kenaikan harga, namun menurut Himam masih dalam tataran wajar. Untuk cabai rawit merah misalnya, harganya saat ini mencapai Rp 7.000 hingga Rp 8.500 per ons. "Kalau jenis cabai lainnya kenaikan harganya bervariasi, tapi tidak sampai menembus lebih dari seratus ribu per kilogram nya," katanya. (hns/hns)











































Petani cabai rawit di Cianjur Foto: Syahdan Alamsyah