Pembangunan Bendungan Tanju dan Mila di NTB Sudah 49%

Pembangunan Bendungan Tanju dan Mila di NTB Sudah 49%

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 20 Jan 2017 07:12 WIB
Pembangunan Bendungan Tanju dan Mila di NTB Sudah 49%
Foto: Eduardo Simorangkir
Dompu - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan pembangunan 65 bendungan hingga tahun 2019 mendatang.

Program ini dilaksanakan sebagai upaya mendukung pencapaian target ketahanan pangan.

Salah satu dari bendungan tersebut adalah bendungan Tanju dan bendungan Nila yang ada di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bendungan Tanju dan Nila merupakan dua bendungan yang saling terintegrasi, dengan terpisah jarak 6 kilometer (km), membendung air di aliran sungai sungai Rababaka. Bendungan ini dikerjakan secara joint operation (JO) oleh PT Hutama Karya dan PT Nindya Karya.

detikFinance berkesempatan langsung meninjau pengerjaan bendungan di dua lokasi tersebut. Kedua bendungan ini memiliki progres pengerjaan yang berbeda, lantaran berbeda ukuran dan waktu mulai pengerjaannya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan III BWS Nusa Tenggara I, Japarussidik mengatakan, saat ini kedua bendungan telah mencapai progres 48,99%, yang terdiri dari progres bendungan Tanju sebesar 55,35%, dan bendungan Mila sebesar 44,65%, dengan serapan anggaran sebesar 33,8% per akhir 2016 lalu. Porsi bendungan secara keseluruhan sendiri terdiri dari Tanju 33,4% dan Mila 66,6%.

"Jadi, terhadap total, realisasi fisik keduanya adalah 48,99%," kata Japarussidik kepada detikFinance, di Bendungan Tanju, Dompu, NTB, Kamis (19/1/2017).

Untuk bendungan Tanju dan Mila, saat ini pengerjaan bendungan sedang masuk pada tahap penggalian pondasi di posisi main DAM. Penggalian akan dilakukan hingga menemukan batu pada dasarnya, sehingga nantinya akan diinjeksi dengan semen agar tidak terjadi rembesan air ke dalam tanah.

Bendungan TanjuBendungan Tanju Foto: Eduardo Simorangkir


Sedangkan pada pengerjaan spillway atau saluran pelimpah sebagai tempat kontrol arus dari bendungan atau tanggul yang menuju ke daerah hilir, juga tengah dilakukan, untuk kemudian masuk ke struktur peluncur sebagai proses masuk ke sungai yang nantinya dibendung.

Pengerjaan juga tengah dilakukan pada bagian main DAM atau bendungan utama. Tampak pengerjaan penggalian tumpukan tanah yang dilakukan oleh sejumlah eskavator, untuk selanjutnya masuk ke proses grouting atau penyuntikan air semen ke dalam material tanah atau batuan yang telah digali.

"Kami juga kerjakan tahap pembersihan outlet dari conduit (terowongan pengelak). Karena kemarin hujan, banyak lumpur, jadi dibersihkan pakai alat. Dan selanjutnya, membuat jalan akses untuk pekerjaan kami di outlet dan spillway," tambahnya.

Pengerjaan galian bendungan utama sendiri ditargetkan selesai sampai akhir Februari, sehingga proses grouting tadi bisa dilakukan, dengan harapan intensitas hujan tidak terlalu tinggi.

Bendungan MilaBendungan Nila Foto: Eduardo Simorangkir


"Tapi sebelum dilakukan grouting, setelah pondasi kita sesuai dengan level yang direncanakan, ada izin dari Komisi Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar (KNIBB), ini sudah layak atau belum untuk ditimbun. Karena setelah ini pile, ada pekerjaan grouting, dan lain-lain," jelas dia.

Mengenai pengadaan lahan, Japar mengatakan, saat ini telah rampung 100%. Hanya saja, untuk bendungan Mila, pembayaran lahan masih mencapai 60%. Sehingga diharapkan 40% sisa pembayarannya kepada warga bisa diselesaikan tahun ini, sehingga pengerjaan bisa lancar dan tidak menemui kendala.

"Tuntutan warga membuat Balai Wilayah Sungai (BWS) harus membayar lahan yang jadi tupoksi Pemda, dan sampai saat ini sisa yang belum terbayar sekitar 40% dan akan diusulkan lewat BWS," tandasnya. (dna/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads