JK Yakin Kebijakan Ekonomi Trump Tak Sekeras Saat Kampanye

JK Yakin Kebijakan Ekonomi Trump Tak Sekeras Saat Kampanye

Muhammad Taufiqqurahman - detikFinance
Jumat, 20 Jan 2017 15:40 WIB
JK Yakin Kebijakan Ekonomi Trump Tak Sekeras Saat Kampanye
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Banyak yang khawatir Donald Trump mewujudkan kebijakan kontroversial pasca resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) 20 Januari 2017. Namun, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), kebijakan Trump akan lebih lunak saat telah menjabat sebagai Presiden.

"Memang kalau dilihat kampanye Trump itu sangat perfeksionis, sangat nasionalistis, untuk kepentingan Amerika. Iya memang semua presiden harus begitu, tapi Amerika yang menganut ekonomi liberal, saya yakin apa yang dikampanyekan itu tidak akan mudah diterapkan di Amerika secara 100 persen," kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (20/1/2017).

Contohnya, saat kampanye, Trump bilang akan mengenakan pajak 45% untuk barang-barang impor dari China. Ini bakal sulit diterapkan karena akan memangkas daya beli masyarakat AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi, banyak barang-barang China telah beredar di pasar AS. Bahkan, Wallmart memasok 90 persen barang-barang dari China. Kenaikan pajak 45 persen akan menaikkan harga barang di dalam negeri AS.

"Karena yang pertama kali protes adalah orang Amerikanya sendiri. Karena nanti mereka mendapatkan harga yang naik dan daya beli amerika akan turun," kata JK

"Tidak mudah menerapkan itu, sama memang kalau Amerika mau bikin tembok di Meksiko, siapa yang akan kerja di California atau Texas bertani dan sebagainya, tidak ada lagi orang Amerika yang seperti itu," lanjut JK.

Rencana Trump untuk tidak melanjutkan Trans Pasific Partnership (TPP) juga akan berimbas tidak langsung kepada Indonesia. Efek tidak dilanjutkannya TPP akan membuat ekspor bahan baku China akan menurun.

"Maka impor bahan baku di Indonesia juga akan menurun, maka komoditi akan menurun, perdagangan dunia akan rusak, dan hampir seluruh dunia akan kena," terangnya.

Sebagai seorang pengusaha, Trump diyakini tidak akan menerapkan proteksionis yang sangat keras dalam bidang ekonomi. (fiq/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads