"Jadi dari pidato itu sebenarnya masih retorika masih sama, yang diomongin itu populis banget. Tidak ada sesuatu yang baru," ungkap Kepala Ekonomi PT Bank Permata Tbk Josua Pardede kepada detikFinance, Senin (23/1/2017).
Menurut Josua, bila Trump mengutamakan kinerja, maka pada pidato itu sudah ada rencana 100 hari ke depan. Termasuk kebijakan utama yang akan diimplementasikan dalam waktu dekat oleh pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat pidato, Trump sedikit menyampaikan slogan 'America First' atau mengutamakan AS. Trump ingin mengembalikan kejayaan AS. Karena itu dia mendorong rakyat untuk membeli produk AS dan mempekerjakan warga AS sebagai pegawai. Trump juga berjanji akan menciptakan 25 juta lapangan kerja baru dalam 10 tahun ke depan.
"Ya memang detail policy-nya tidak spesifik. Pasar sudah price in dengan kebijakan kemarin saat kampanye, makanya sekarang jadi biasa-biasa saja di market," jelasnya.
Pada sisi lain, Josua menuturkan rentetan kebijakan Trump bersifat sangat strategis. Di antaranya adalah kebijakan pemangkasan tarif pajak, repatriasi aset warga AS, proteksionisme perdagangan serta ingin pertumbuhan ekonomi AS mencapai 4%.
"Pertumbuhan ekonomi 4% pernah disampaikan saat kampanye itu terlalu populis. Mungkin perlu waktu untuk disusun ulang dalam kebijakan dan dijelaskan ke publik," terangnya.
"Kemudian dari semua kebijakannya kan ada risiko, karena akan dorong spending di infrastruktur dan militer ini bisa mendorong defisit fiskal sehingga berpotensi buruk ke depannya dalam jangka panjang," terang Josua.
Para investor, menurut Josua masih akan menunggu hari-hari pertama Trump. " Meskipun pasar saham positif, tapi dolar dan yield obligasi turun. Hari-hari pertama akan dipantau terus oleh pasar. Semua masih akan wait and see," papar Josua. (mkj/wdl)










































