Pengamat ekonomi dari PT Bank Central Asia Tbk, David Samual melihat tahun ini lebih dipandang sebagai tahun rasional. Dia menilai pertumbuhan ekonomi bisa digenjot hingga di angka 5,3% itu sudah cukup maksimal.
"Kalau menurut saya memang banyak tantangan di 2017 ini, jadi kalau ada pertumbuhan ekonomi hingga 6%, itu butuh waktu. Tahun ini maksimal bisa tumbuh 5,3% ekonomi kita," kata dia kepada wartawan, Rabu (25/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, dia melihat faktor global salah satu hal yang menjadi penghambat. Kebijakan pembatasan ekonomi Amerika Serikat (AS) oleh Donald Trump bisa menjadi ancaman beberapa negara mitranya.
Salah satu yang dikhawatirkan adalah pengaruh terhadap China. Jika China terkena dampak signifikan dari kebijakan Trump maka ini bisa turut mempengaruhi volume perdagangan Indonesia ke China, alhasil pertumbuhan ekonomi sulit ditingkatkan.
Kedua, dari faktor domestik. Beberapa tekanan akan terjadi terhadap inflasi pada 2017. Ini lebih dikarenakan akan ada kenaikan harga listrik, cukai rokok, BBM dan beberapa hal lainnya.
"Belum lagi faktor Pilkada, ini menjadikan para investor lebih memilih wait and see sebelum taruh dananya di beberapa daerah di Indonesia," tegas dia.
David melihat, secara rasional dengan didukung beberapa komitmen pemerintah melakukan deregulasi, ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 6% dalam tiga tahun ke depan.
Sebelumnya, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri memandang ekonomi Indonesia bisa tumbuh hingga 6% dalam waktu dekat. Hanya saja untuk mencapai itu ada beberapa persyaratan.
Persyaratan itu diantaranya rasio investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) harus ada di 37%, sedangkan saat ini hanya 32%. Selain itu, rasio tabungan terhadap PDB juga harus 34% didukung dengan defisit transaksi berjalan berada di level 3%. (dna/dna)











































