Seperti Lina, wanita yang fasih berbahasa sunda ini mengaku banyak berkah yang didapat beberapa saat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Lina saat ini menjual segala macam pernak-pernik kebutuhan Tahun Baru Imlek. Mulai dari angpao, lampion, gantungan, hingga gambar tempel bergambar ayam api atau sesuai dengan sio 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang momennya Imlek, saya berani jualan pernak pernik karena kan dibutuhkan," kata dia kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (27/1/2017).
Lina mulai mengubah barang dagangannya menjadi pernak pernik Imlek sejak awal Desember 2016. Dia menyebut sudah pekan kedua Desember 2016 tokonya sudah banyak diserbu oleh masyarakat. Untuk produk yang paling laku dijual, Lina menyebutkan sampai saat ini adalah angpao dibandingkan dengan pernak pernik lainnya.
"Angpao sekarang sudah habis, karena beli langsung, ada juga yang dikirim," jelasnya.
Lina mengungkapkan, ada beberapa daerah yang menjadi ladang bagi produk-produk yang dijualnya. Seperti, Semarang, Salatiga, Lombok, Kalimantan, Medan, Palembang, Lampung. Menurut dia, pesanan ke luar daerah itu beragam keperluannya, ada yang memang untuk kebutuhan Tahun Baru Imlek untuk dekorasi rumah, dan ada juga yang memang untuk di jual lagi.
Berdagang pernak-pernik hampir 2 bulan, wanita yang memiliki 2 karyawan ini mengaku telah mengantongi omzet kurang lebih Rp 200 juta. Kunci dari kesuksesanya, Lina mengaku, karena telah bergaul dengan masyarakat keturunan China sejak berada di bangku sekolah.
"Sejak SMP saya berteman dengan mereka, karena sering berbaur makanya lumayan mempengaruhi, malah saya dikira orang China juga," jelasnya.
Meski telah meraup keuntungan yang besar, Lina mengaku masih kerap dipusingkan dengan beberapa sikap pembeli yang membatalkan, terutama pembeli yang tiba-tiba membatalkan pesanannya. Produk yang dijual Lina mayoritas berasal dari China atau produk impor yang diambil langsung dari agen. Meski demikian tidak menyurutkan niat masyarakat membeli dagangannya.
"Ada lokal juga, tapi gak banyak, kaya angpao, lampion, ada yang lokal, tapi mayoritas yang lain impor," ungkap wanita yang sudah berjualan selama 14 tahun. (mkj/mkj)











































