Benarkah Ekspor dari Priok Lebih Murah? Ini kata Pengusaha

Benarkah Ekspor dari Priok Lebih Murah? Ini kata Pengusaha

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Senin, 30 Jan 2017 17:42 WIB
Benarkah Ekspor dari Priok Lebih Murah? Ini kata Pengusaha
Foto: agung pambudhy
Jakarta - Tanjung Priok akan menjadi pelabuhan hub internasional sementara sambil menunggu kesiapan Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara. Dengan begitu, ekspor produk dari Indonesia tak perlu lagi lewat Singapura.

PT Pelindo II menyebut ekspor akan lebih murah Rp 1,5 juta per kontainer dibandingkan lewat Singapura. Menurut Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita, Pelindo II harusnya memperbanyak direct call atau trayek langsung tanpa transit ke Singapura.

Namun, direct call tersebut harus mempertimbangkan besaran volume ekspor yang dikirim.

"Iya kita maunya dari Priok banyak direct ke pelabuhan di ASEAN dan Asia. Kita sangat mendukung kalau makin banyak direct call kapal-kapal dari Priok ke negara tujuan langsung," ujar Zaldy, kepada detikFinance, Senin (30/1/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, terkait ongkos angkut, Zaldy belum mengetahui apakah akan lebih hemat atau tidak. Karena menurutnya akan dapat diketahui jika sudah berjalan.

"Menghemat cost kita belum tahu, harus kita bandingkan sewaktu sudah berjalan apakah lebih murah dari Semarang dengan truk ke Priok lalu ke Thailand atau Semarang via Singapura lalu ke Thailand. Harus dibuktikan di lapangan karena kita tahu biaya operasional di Tanjung Priok tidak efisien," ujarnya.

Selain itu, dia juga meminta pemerintah menyelesaikan pembangunan pelabuhan di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Hal itu karena Kuala Tanjung memiliki rute internasional sehingga lebih banyak muatan kargo yang dikirim.

"Kuala Tanjung segera dibangun sebagai hub domestik dan gateway internasional," ujarnya.

Nantinya ketika Priok dijadikan hub internasional kapal-kapal besar akan dapat masuk ke dalamnya untuk mengirim kegiatan ekspor dan impor. Namun, menurutnya Priok tetap disebut sebagai hub domestik karena tidak ada kontainer dari negara lain.

"Walaupun kapal besar masuk Indonesia tetap saja fungsinya hub domestik karena di dalam kapal-kapal besar tersebut tidak ada container dari Malaysia, East Timor atau Thailand. Isinya semua container dari Indonesia semua," kata Zaldy. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads