Menurut Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung, jika kebijakan fiskal yang akan dikeluarkan Trump sesuai dengan janji kampanyenya seperti pemangkasan pajak, ditambah kenaikan suku bunga The Fed, maka itu akan menguatkan nilai tukar dolar.
"Kalau fiskalnya ekpansif kemudian direspon oleh The Fed maka ini resep untuk penguatan dollar," kata Juda Agung, dalam diskusi Economic Outlook, di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (31/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Good newsnya adalah bahwa harga-harga komoditas khususnya ekspor kita mengalami kenaikan yang luar biasa," ujar Juda.
Ia mengatakan, harga komoditas seperti batubara dari kuartal III hingga akhir tahun lalu mengalami kenaikan 30%. Kenaikan itu terjadi karena China mengurangi produksi batu baranya, tetapi ia mempertanyakan apakah ini sebagai suatu hal yang suistainable atau tidak.
"Kuartal III sampai akhir tahun lalu saja batubara naiknya hampir 30% jadi ini seebuah peluang, apakah harga ini sustainable? Ada yang mengatakan ini karena penurunan produksi batu bara dari China yang kemudian China impor dan harga naik, China dari sisi rebalancaing ekonomi, yang dia mau mengarah ke domestik ekonominya kelihatannya kembali kepada investasi ekspor sehingga membutuhkan natural resources yang diimpor dari luar negeri," imbuhnya.
Ia menyebut jika harga komoditas meningkat, maka akan memperbaiki sektor investasi. Sementara itu, konsumsi rumah tangga juga diperkirakan naik sehingga menjadi peluang Indonesia di tahun ini.
"Di sektor investasi, ada korelasi yang kuat di harga komoditas. Investasinya yang baik, walaupun volume ekspsor yang sama, sektor itu ada peluang, jadi dari segi ekspor baik, konsumsi baik, investasi baik," ujarnya. (mca/mca)










































