Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, laba bersih tersebut masih bisa berubah lantaran masih belum diaudit.
"Tahun 2016 masih unaudited, kalau laba sebelum pajak Rp 841,67 miliar atau tumbuh 115,67% dari target RKAP Rp 727,67 miliar," kata Djarot di Kantor Bulog, Jakarta, Selasa (31/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Realisasi penyerapan beras 2016 lebih tinggi dibandingkan penyerapan yang dilakukan 2015 yang hanya mencapai 2,6 juta ton dari target 3,5 juta ton atau 81,2%.
"Kami di 2016 mampu menyerap beras dalam jumlah lebih baik dari 2015, 2,9 juta ton kami bisa serap," tambahnya.
Pada 2016, kata Djarot, Bulog juga berhasil meredam kenaikan harga. Hal tersebut berkat adanya operasi pasar cadangan beras pemerintah (OP-CBP) dan melakukan pasar murah.
"Tapi yang penting di sini adalah kerjasama Bulog dengan pelaku bisnis untuk berkomitmen menjaga harga beras," jelasnya.
Sementara itu, Direktur SDM dan Umum Perum Bulog Wahyu mengatakan, Pada 2017 Perum Bulog menargetkan total pendapatan Rp 51,4 triliun dengan proyeksi laba sebesar Rp 1,1 triliun.
"Kalau 2016 pendapatan Rp 46,6 triliun, kalau 2015 Rp 42 triliun," jelasnya.
Sementara target pengadaan beras di 2017 naik menjadi 3,7 juta ton, yang terdiri 3,2 juta ton beras PSO, dan 500 ribu ton beras komersial. (ang/ang)











































