Hal ini lah yang mendasari pemerintah terus mencari terobosan agar kemudahan dalam berusaha bisa terus mengalami perbaikan, sehingga investor pun mau menanamkan modalnya di dalam negeri.
Meski Indonesia telah menuai prestasi dengan menorehkan sejarah sebagai negara pertama yang mengalami lompatan terjauh dalam peringkat kemudahan berbisnis (ease of doing business/eodb) dalam setahun, masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Salah satunya adalah regulasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kedua, rezim perpajakan. Menteri Keuangan mengatakan beberapa waktu lalu, ternyata penerimaan pajak kita lebih dari 70% itu dari sektor manufaktur. Sementara sektor lain kurang sekali. Nah, bagaimana manufaktur kita mau maju kalau dibebankan pajak luar biasa terus," tambahnya.
Selain itu, kendala lainnya adalah tenaga kerja atau Sumber Daya Manusia (SDM). Kualitas SDM Indonesia yang belum merata membuat pemberdayaan SDM sulit dilakukan.
Dan terakhir adalah infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang belum merata mulai dari kelistrikan, akses jalan ke Kawasan Industri, penyediaan air bersih hingga manajemen sampah masih perlu banyak pembenahan.
"Tapi akar dari semua itu adalah mindset atau mental. Kematangan pola pikir dan jiwa kita. Makanya Presiden mencanangkan revolusi mental. Dari yang defensif jadi agresif. Beliau mengatakan selama ini kita terjebak dengan rutinitas. Sudah jadi kebiasaan," tutur Thomas.
"Untuk memecahkan pola lama memang enggak gampang. Tapi dengan semangat kebersamaan, keseriusan, niat baik, saya sangat yakin kita bisa menanggulangi tekanan-tekanan tadi mulai dari rupiah, anjloknya harga komoditas dan lainnya," pungkasnya. (dna/dna)










































