Indonesia mengandalkan 4 hal dalam memacu pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi, belanja negara, ekspor dan investasi. Tiga hal pertama tak mudah menjadi andalan karena situasi ekonomi global sedang tak baik.
"Konsumsi kita selama ini cukup kuat. Tapi kita tidak bisa genjot lagi. Sudah mentok. Risikonya nanti bisa over konsumtif. Lalu APBN, itu juga sudah mentok. Defisit sudah di batasnya. Makanya kemarin langsung dipangkas karena negara sudah bahaya, defisitnya bisa tidak terkendali dengan konsekuensi yang sangat parah seperti kepercayaan pasar dan kurs rupiah," ujar pria yang akrab disapa Tom ini, pada acara peluncuran layanan KLIK di Batam, Jumat (3/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, menggenjot investasi pun tak semudah teori yang dibayangkan. Kondisi global yang dalam 5 tahun terakhir penuh ketidakpastian membuat banyak negara juga berpikir keras mendatangkan dana segar.
Hal tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia yang harus merancang berbagai terobosan agar bisa menarik investor berinvestasi di dalam negeri.
"Sekarang persaingan sengit. Semua negara sekarang berebutan. Seperti sekarang, kita tidak hanya berhadapan dengan Vietnam, yang lagi rajin menawarkan tax allowance, tax holiday dan insentif lainnya. Jadi dunia sangat dinamis, ini benar-benar balapan untuk bisa menarik investasi yang kita inginkan," tandasnya. (hns/hns)










































