Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, menilai proyeksi angka 5% karena beberapa faktor. Konsumsi rumah tangga tetap stabil pada level 5%, investasi ada pada kisaran di bawah 5%, ekspor masih tetap di bawah 0% alias negatif.
"Belanja pemerintah lebih rendah karena ada pemangkasan yang cukup besar, memang terlihat belanja rutin atau modal di bawah target," ungkap David kepada detikFinance, Senin (6/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspor lebih baik karena harga komoditas," ujarnya.
Sementara itu Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, agak lebih optimistis. Dia memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5,03%, atau lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 4,8%. Faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga yang terlihat di beberapa industri.
"Peningkatan konsumsi masyarakat dikonfirmasi oleh perbaikan penjualan automotif, tren penguatan indeks kepercayaan konsumen serta solidnya penjualan eceran. Peningkatan konsumsi juga dikonfirmasi oleh masih kuatnya daya beli masyarakat di tengah tren penurunan inflasi," ungkap Josua kepada detikFinance.
"Pembentukan Modal Tetap Bruto (investasi) diperkirakan meningkat menjadi 4,8% dari kuartal sebelumnya 4,1%. Investasi di sektor riil cukup solid terkonfirmasi oleh impor barang modal yang cenderung meningkat pada kuartal IV-2016," paparnya. (mkj/wdl)











































