KPPU Usul BUMN Terlibat dalam Industri Peternakan Ayam

KPPU Usul BUMN Terlibat dalam Industri Peternakan Ayam

Muhammad Idris - detikFinance
Senin, 06 Feb 2017 18:28 WIB
KPPU Usul BUMN Terlibat dalam Industri Peternakan Ayam
Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Bogor - Sejak beberapa tahun terakhir peternak rakyat mengalami masalah kelangkaan suplai Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam. Selama ini, peternak rakyat mengandalkan pasokan bibit ayam tersebut dari perusahaan peternakan ayam terintegrasi atau integrator.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, menilai perlunya keberadaan BUMN yang masuk ke industri ayam integrasi. Tujuannya, menyediakan suplai bibit ayam yang berkesinambungan dan harga terjangkau untuk peternak mandiri. Selain DOC, BUMN juga diperlukan untuk menyediakan pakan ternak, obat, hingga sarana produksi peternakan (Sapronak).

"Selama ini suplai DOC hanya dikuasai oleh 12 perusahaan integrator. Yang besar dua, mereka ini enggak ada pesaing, pasarnya ya itu-itu saja, enggak ada yang salip menyalip," ucap Syarkawi ditemui di peternakan ayam Kecamatan Parung, Bogor, Senin (6/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau ada BUMN masuk ke situ, akan sangat menarik untuk perunggasan nasional kita. Kita dorong BUMN harus masuk ke peternakan (ayam) dan bisa bermitra dengan peternak-peternak ini," katanya lagi.

Dia melanjutkan, dengan menjadi integrator, perusahaan pelat merah juga bisa jadi tangan kanan pemerintah mengendalikan harga ayam. Pasokan ayam di pasar domestik didominasi perusahaan-perusahaan integrator swasta.

"Apakah BUMN itu dia usaha di hulu industri ayam 30%, 70% dia bermitra dengan peternak rakyat di budidaya. Jaringan BUMN kita juga sudah besar. Saya malah heran sampai sekarang belum ada BUMN yang mau masuk jadi integrator," ujar Syarkawi.

Sebelumnya, Alfino, salah seorang peternak ayam di Kabupaten Bogor, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan DOC dari perusahaan integrator yang menjadi breeder. Kalau pun ada stok DOC, harganya pun terbilang cukup mahal.

"Saya pribadi enggak mudah dapat DOC, yang (peternak) kecil-kecil ini susah. Kalau pun ada harganya Rp 4.800/ekor. Tapi beberapa minggu ini naik jadi Rp 5.000/ekor, buat ongkos transportasi katanya, ditambah vaksin jadi harga Ro 5.300/ekor," ujar Alfino.

Lantaran sulitnya mendapatkan DOC dari perusahaan integrator, peternak mandiri terpaksa harus membelinya dari broker yang selama ini jadi mitra perusahaan integrator.

"Itu Rp 5.300/ekor kalau belinya langsung dari integrator, kalau belinya dari broker ya lebih mahal lagi pasti. Kadang kita beli ke perusahaan (integrator) katanya sudah habis, kuotanya sudah dialokasikan ke pelanggan lama. Tapi kalau belinya di broker pasti ada (stok DOC)," kata Alfino (idr/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads