Lampaui Daging Sapi, Cabai Rawit di Mojokerto Tembus Rp 140.000/Kg

Lampaui Daging Sapi, Cabai Rawit di Mojokerto Tembus Rp 140.000/Kg

Enggran Eko Budianto - detikFinance
Selasa, 07 Feb 2017 15:16 WIB
Lampaui Daging Sapi, Cabai Rawit di Mojokerto Tembus Rp 140.000/Kg
Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Hargai cabai rawit di Kota Mojokerto, Jawa Timur, melampaui harga daging sapi. Jika daging sapi Rp 120.000/kilogram (kg), cabai rawit tembus Rp 140.000/kg.

Melejitnya harga cabai ini dipicu minimnya pasokan karena banyak petani yang gagal panen. Kondisi ini dikeluhkan para pedagang karena membuat omzet mereka anjlok 50%.

Salah satunya pedagang di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto. Salah seorang pedagang cabai rawit, Fauziyah (35) menjual cabai rawit Rp 140.000/kg. Kenaikan harga terjadi sejak seminggu terakhir secara bertahap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang harganya Rp 140.000/kg, kenaikan sudah semingguan, sebelumnya Rp 120/Kg. Kenaikan karena stok cabai mulai langka," kata Fauziyah kepada wartawan, Selasa (7/2/2017).

Pedagang cabai rawit lainnya, Indahyati (40), melambungnya harga cabai rawit membuat omzet penjualan anjlok 50%. Jika sebelum kenaikan penjualan 3 kuintal per hari, kini ibu tiga anak ini hanya mampu menjual 1,5 kuintal per hari.

"Pelanggan banyak yang mengurangi pembelianya. Mereka yang biasanya beli 1 kg, sekarang hanya setengahnya saja. Pelanggan lainnya malah menyiasati mencampur cabai rawit merah dengan cabai hijau supaya harganya terjangkau," ungkapnya.

Hal itu diakui Herti (40), pengusaha warung nasi saat membeli cabai di lapak langganannya di Pasar Tanjung Anyar. Dia mengurangi pembelian cabai rawit, dari sebelumnya 1 kg menjadi hanya 2,5 ons.

"Saya campur dengan cabai merah besar yang harganya Rp 36.000/kg, tetap beli cabai rawit, tapi endak banyak, biasanya 1 kg kalau mahal begini ya seperempat kg," ujarnya.

Bahkan kenaikan harga cabai rawit saat ini melebihi harga daging sapi. Di Pasar Tanjung Anyar, harga daging sapi pada kisaran Rp 120.000/kg. Seperti diakui para pedagang, melambungnya harga cabai rawit dipicu minimnya pasokan dari para petani.

Pasalnya, kondisi cuaca yang ekstrem membuat para gagal panen. Seperti yang dialami para petani cabai di sentra penghasil cabai rawit Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

"Kalau biasanya bisa memanen cabai 60 kg sampai 70 kg per hektare lahan, sekarang hanya bisa memanen 3 kg saja," kata Suwito (40), petani cabai rawit di Desa Brayublandong.

Hal senada dikatakan Lilis (35), petani cabai asal Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong. Menurut dia, cabai hasil panen di sawah dihargai para tengkulak hanya Rp 90 ribu/Kg.

"Hasilnya tidak sebanding dengan biaya operasionalnya. Banyak petani yang merugi," tandasnya. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads