Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) menyebutkan, kualitas produk mutiara laut selatan Indonesia saat ini masih belum memiliki acuan standar mengenai produk mutiara.
Alhasil, produk-produk mutiara Indonesia kebanyakan setelah panen langsung dijual atau diekspor ke Jepang dan Hong Kong, sehingga tidak ada nilai tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produksi mutiara laut selatan di Indonesia saat ini rata-rata per tahun mencapai 5,4 ton sampai 7,5 ton mutiara. Kualitas produk mutiara Indonesia yang rendah lantaran faktor alam dan masih belum banyaknya pelaku usaha yang ingin memproses lebih lanjut mutiara, seperti menjadi kalung, anting, hingga cincin.
"Kalau kualitas itu karena faktor lingkungan, polusi di laut meningkat," tambahnya.
Oleh karena itu, kata Raditya, upaya yang harus dilakukan pemerintah dalam mengoptimalkan potensi mutiara laut selatan Indonesia dengan mengatur tata ruang laut, khususnya untuk budidaya mutiara laut selatan. Sehingga, ruang untuk budidaya jelas lokasinya.
Tidak hanya itu, upaya pemerintah juga bisa dilakukan dengan cara edukasi kepada para pelaku usaha di sektor mutiara untuk mampu memberikan nilai tambah pada produknya. Misalnya, mutiara tidak lagi dijual butiran melainkan sudah berbentuk kalung, anting dan cincin.
Adapun, upaya selanjutnya, kata Raditya, bisa membuat indeks atau standar mutiara seperti halnya yang dilakukan pada emas.
"Kita harus memiliki kemauan dukungan pemerintah, agar memproduksi kualitas terbaik, salah satunya tata ruang wilayah, kalau itu berhasil saya yakin itu bisa membangkitkan," jelasnya. (mkj/mkj)











































