Kepala Balitbang Kementan, Muhammad Syakir, mengungkapkan kerja sama ini dilakukan lantaran banyak hasil penelitian dari lembaganya tidak terdistribusi dengan baik hingga ke petani maupun pelaku industri. Varietas tebu yang sedang dikembangkan yakni, benih tebu yang memiliki produktivitas di atas 150 ton per hektar, dengan tingkat rendemen di atas 12%.
"Tebu adalah langkah awal dari target swasembada bagaimana agar rendemennya bisa di atas 12% dan produksi 150 ton. Satu-satunya cara peningkatan produksi dengan keterbatasan lahan saat ini, tidak ada jalan pintas lain kecuali varietas baru dengan rendemen dan produksi tinggi," kata Syarkir di kantor Balitbang Kementan, Jakarta, Rabu (8/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Muhammad Idris |
"Balitbang harus lebih agresif, bukan hanya menghasilkan, tapi juga agresif menyalurkan hasil inovasi teknologinya. Sementara kalau Pertani harus menghasilkan riset sendiri kan mahal, kenapa tidak pakai lembaga riset yang sudah ada dari pemerintah saja," ungkapnya.
Menurut Syakir, pengembangan varietas baru tebu dengan produktivitas tinggi tersebut ditargetkan bisa rampung pada tahun ini, sekaligus bisa mulai dijual Pertani pada akhir 2017.
Sementara itu, Direktur Utama Pertani, Wahyu, mengatakan pihaknya sudah mulai mempersiapkan jaringan distribusi benih tebu yang dikembangkan Balitbang Kementan nantinya.
"Kita sudah melakukan perbincangan dengan BUMN-BUMN yang bergerak di sektor perkebunan seperti beberapa PTPN. Kendala mereka itu bibit tebu, rendemen yang ada sekarang 6-8% saja dianggap sudah optimal. Sementara pembicaraan dengan Kepala Balitbang katanya bisa menghasilkan rendemen di atas 10%, bahkan di atas 12%," ujar Wahyu. (idr/wdl)











































Foto: Muhammad Idris